Kamis, 01 April 2021

Senda gurau proporsional & candaan ringan

Alloh mencipta manusia dengan karakteristiknya, yaitu sering dalam keadaan susah payah, ada musibah dan ujian-ujian. Oleh karenanya penting mengajak orang lain bersenda gurau yang proporsional dan candaan ringan. Termasuk  rosul dengan para sahabat. Mengapa rosul sering mengajak bercanda?. Andai saja rosul tidak bercanda, tentu kita tidak diperbolehkan bercanda. Ini artinya kita mengikuti sunnah rosul, ketika mengajar diselingi humor.

Akan tetapi sendau gurau ringan ini ada adab-adabnya, yaitu (1) jangan sampai candaan itu menistakan agama, karena orang munafik sering menistakan agama. Rosul bertanya, mengapa kamu menistakan ayat-ayat Allloh? dijawab oleh orang munafik, Kami hanya bercanda. Apakah kamu bercanda dengan cara mengolok-oloknya. Tentu tidak pantas. Apakah kalian ingin kafir setelah jelas peringatan (islam).

(2) jangan sampai candaan berisi penghinaan atau penistaan pada orang lain. (3) jangan sampai candaan itu berisi kata-kata dusta. Sahabat bertanya, mengapa engkau mengajak bersenda gurau. Saya bercanda itu dengan jujur tidak ada dusta, bohong dan penipuan. (4) jangan sampai berisi kedzaliman kemudhorotan yang membahayakan orang lain. (5) jangan samapai di waktu yang salah, harus di waktu yang tepat. Tidak setiap waktu bercanda tidak di semua tempat juga. (6) harus memilih orang yang tepat ketika bercanda. candaan dengan istri / anak berbeda dengan teman.

Para sahabat mengatakan rosul adalah orang yang paling banyak tersenyum, sehingga tidak pernah bermuka masam ketika berhadapan dengan orang lain. Siapapun jika bertemu dengan beliau, selalu ingin bercakap-cakap. Beliau suka bercanda tetapi sangat memperhatikan adab-adab di atas. Berikut ini contoh-contohnya.

Hadist dari aisyah. Saat itu rosul sedang duduk bersama dua istri beliau (saudah dan aisyah). Rosul duduk diantara mereka berdua. Aisyah membawa bejana berisi adonan tepung dan daging, terlihat berat, tapi aisyah masih kuat. Kaki beliau menyentuh di kaki aisyah dan saudah. Wahai saudah, silahkan makan, saudah enggan. Aisyah yang masih lugu, tangannya dimasukkan dalam adonan dan ditempelkan di muka saudah. Kaki beliau diangkat, wahai saudah, berdirilah dan balas perbuatan aisyah. Sehingga kedua-duanya mukanya kena tepung. Rosul tersenyum. Tiba-tiba terdengar suara umar, mencari anaknya. Rosul tahu umar itu tegas dan perangainya keras. Rosul menyuruh aisyah dan saudah membersihkan mukanya karena umar mau datang. Hikmah dari hadis di ini adalah Saudah langsung paham dan langsung membalas. Ini artiya pilihan waktu yang tepat dan orang yang tepat, sehingga saling memahami.

Contoh kedua, dari aisyah. Pernah beliau bersama rosul dalam suatu perjalanan. Aisyah masih 12 tahun dan masih kurus. Silahkan kalian (para sahabat) maju dan saksikan. Wahai aisyah, ayo kita lomba lari. Larilah rosul dan aisyah. Rosul kalah dan aisyah menang, karena beliau masih kurus. Setelah berberapa waktu, saat aisyah sudah gemuk. Saksikan (wahai para sahabat), ayo aisyah lomba lari. Ahirnya rosul menag. Setelah selsai rosul tertawa. Sekarang psosisinya sma 1-1. Pelajarannya adalah penting sekali mengulang peristiwa menyenangkan di masa lalu. Berncanda yang proporsional dengan memperhatikan adab.

Setiap keluarga pasti punya masalah, demikian di keluarga rosul. Bagaimana rosul bercanda dengan keluarganya untuk menetralisir keadaan. Dengan demikian bercanda adalah sunnah rosul. Kita niat meneladani rosul, tentu berpahala. Niat menyenangkan keluarga. Berikut ini contoh bagaimana rosul menyelesaikan permasalahan keluarga dengan candaan.

Bagaimana rosul menyelesaikan rasa cemburu istrinya. Dari anas bin malik (pembantu Rosul). Saat itu rosul punya jadwal di salah satu istrinya. Kebetulan ada tamu banyak di rumah itu. tentu butuh jamuan. Istri yg di tempati itu agak terlambat menyediakan jamuannya. Datanglah pembatunya bejana beirisi makanan yang datang dari istri yang lain. Begitu sampai pembantu tersebut, diketahui sama istri pemilik rumah tadi. Di hadapan rosul dan sahabat, bejana tadi di dorong dan jatuh dan pecah, makanannya berserakan. Ini dihadapan orang banyak (sahabat yang luar biasa). Rosul tidak menyuruh orang lain untuk mengumpulkannya. Rosul sendiri yang mengumpulkannya. Luar biasa kata-kata rosul. Diksi yang dipilih. Si fulan sedang cemburu, ibu kalian. Tidak dengan kata fulan binti siapa. Kemudian rosul mengambil bejana lain dari istri yang ditempati. Pembantu disuruh mengembalikan bejana utuh itu ke istri yang lain.

Untuk bisa mendalami hadis ini, bayangkan kita sebagai posisi seperti rosul, punya jabatan tinggi. Kemudian ada tamu-tamu hebat. Kemudian istri memukul makanan, jatuh dan pecah. Bagaimana kita menyelesaikan. Kalimat apa yang kita ucapkan?. Perhatikan istri rosul itu rela, karena tidak dimarahi. Bahkan hari setelah kejadian tersebut. Istri yang mengirim makanan tadi juga rela, karena bejananya diganti. Para tamu juga tidak marah, karena disebutkan ibu kalian, bukan orang lain.

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar