Alloh mencipta manusia dengan karakteristiknya, yaitu sering dalam keadaan susah payah, ada musibah dan ujian-ujian. Oleh karenanya penting mengajak orang lain bersenda gurau yang proporsional dan candaan ringan. Termasuk rosul dengan para sahabat. Mengapa rosul sering mengajak bercanda?. Andai saja rosul tidak bercanda, tentu kita tidak diperbolehkan bercanda. Ini artinya kita mengikuti sunnah rosul, ketika mengajar diselingi humor.
Akan tetapi sendau gurau ringan ini ada adab-adabnya,
yaitu (1) jangan sampai candaan itu menistakan agama, karena orang munafik
sering menistakan agama. Rosul bertanya, mengapa kamu menistakan ayat-ayat
Allloh? dijawab oleh orang munafik, Kami hanya bercanda. Apakah kamu bercanda
dengan cara mengolok-oloknya. Tentu tidak pantas. Apakah kalian ingin kafir
setelah jelas peringatan (islam).
(2) jangan sampai candaan berisi penghinaan
atau penistaan pada orang lain. (3) jangan sampai candaan itu berisi kata-kata
dusta. Sahabat bertanya, mengapa engkau mengajak bersenda gurau. Saya bercanda
itu dengan jujur tidak ada dusta, bohong dan penipuan. (4) jangan sampai berisi
kedzaliman kemudhorotan yang membahayakan orang lain. (5) jangan samapai di
waktu yang salah, harus di waktu yang tepat. Tidak setiap waktu bercanda tidak
di semua tempat juga. (6) harus memilih orang yang tepat ketika bercanda. candaan
dengan istri / anak berbeda dengan teman.
Para sahabat mengatakan rosul adalah orang yang
paling banyak tersenyum, sehingga tidak pernah bermuka masam ketika berhadapan
dengan orang lain. Siapapun jika bertemu dengan beliau, selalu ingin
bercakap-cakap. Beliau suka bercanda tetapi sangat memperhatikan adab-adab di
atas. Berikut ini contoh-contohnya.
Hadist dari aisyah. Saat itu rosul sedang duduk
bersama dua istri beliau (saudah dan aisyah). Rosul duduk diantara mereka
berdua. Aisyah membawa bejana berisi adonan tepung dan daging, terlihat berat,
tapi aisyah masih kuat. Kaki beliau menyentuh di kaki aisyah dan saudah. Wahai saudah,
silahkan makan, saudah enggan. Aisyah yang masih lugu, tangannya dimasukkan dalam
adonan dan ditempelkan di muka saudah. Kaki beliau diangkat, wahai saudah,
berdirilah dan balas perbuatan aisyah. Sehingga kedua-duanya mukanya kena
tepung. Rosul tersenyum. Tiba-tiba terdengar suara umar, mencari anaknya. Rosul
tahu umar itu tegas dan perangainya keras. Rosul menyuruh aisyah dan saudah
membersihkan mukanya karena umar mau datang. Hikmah dari hadis di ini adalah Saudah
langsung paham dan langsung membalas. Ini artiya pilihan waktu yang tepat dan
orang yang tepat, sehingga saling memahami.
Contoh kedua, dari aisyah. Pernah beliau bersama
rosul dalam suatu perjalanan. Aisyah masih 12 tahun dan masih kurus. Silahkan kalian
(para sahabat) maju dan saksikan. Wahai aisyah, ayo kita lomba lari. Larilah rosul
dan aisyah. Rosul kalah dan aisyah menang, karena beliau masih kurus. Setelah berberapa
waktu, saat aisyah sudah gemuk. Saksikan (wahai para sahabat), ayo aisyah lomba
lari. Ahirnya rosul menag. Setelah selsai rosul tertawa. Sekarang psosisinya
sma 1-1. Pelajarannya adalah penting sekali mengulang peristiwa menyenangkan di
masa lalu. Berncanda yang proporsional dengan memperhatikan adab.
Setiap keluarga pasti punya masalah, demikian
di keluarga rosul. Bagaimana rosul bercanda dengan keluarganya untuk
menetralisir keadaan. Dengan demikian bercanda adalah sunnah rosul. Kita niat
meneladani rosul, tentu berpahala. Niat menyenangkan keluarga. Berikut ini
contoh bagaimana rosul menyelesaikan permasalahan keluarga dengan candaan.
Bagaimana rosul menyelesaikan rasa cemburu
istrinya. Dari anas bin malik (pembantu Rosul). Saat itu rosul punya jadwal di
salah satu istrinya. Kebetulan ada tamu banyak di rumah itu. tentu butuh
jamuan. Istri yg di tempati itu agak terlambat menyediakan jamuannya. Datanglah
pembatunya bejana beirisi makanan yang datang dari istri yang lain. Begitu sampai
pembantu tersebut, diketahui sama istri pemilik rumah tadi. Di hadapan rosul
dan sahabat, bejana tadi di dorong dan jatuh dan pecah, makanannya berserakan. Ini
dihadapan orang banyak (sahabat yang luar biasa). Rosul tidak menyuruh orang
lain untuk mengumpulkannya. Rosul sendiri yang mengumpulkannya. Luar biasa
kata-kata rosul. Diksi yang dipilih. Si fulan sedang cemburu, ibu kalian. Tidak
dengan kata fulan binti siapa. Kemudian rosul mengambil bejana lain dari istri
yang ditempati. Pembantu disuruh mengembalikan bejana utuh itu ke istri yang
lain.
Untuk bisa mendalami hadis ini, bayangkan kita
sebagai posisi seperti rosul, punya jabatan tinggi. Kemudian ada tamu-tamu
hebat. Kemudian istri memukul makanan, jatuh dan pecah. Bagaimana kita
menyelesaikan. Kalimat apa yang kita ucapkan?. Perhatikan istri rosul itu rela,
karena tidak dimarahi. Bahkan hari setelah kejadian tersebut. Istri yang
mengirim makanan tadi juga rela, karena bejananya diganti. Para tamu juga tidak
marah, karena disebutkan ibu kalian, bukan orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar