Candanya Rosul sebagai rahmat. Minimal
ada 2 hal baik dalam bercanda, yaitu (1) mendapat keringanan dalah hidup (2)
kita niatkan lillahi ta’ala, sehingga bercanda mendapatkan pahala. Ini karena
mengikuti sunnah Rosul. Membuat orang lain bahagia, juga berpahala.
Dari Anas bin Malik. Rosul
termasuk orang yang paling banyak berkasih sayang kepada anak-anak. Termasuk yang
banyak bercanda pada anak-anak. Anak-anak itu menghadapi hidup biasa saja tidak
ada tuntutan. Sehingga rosul senang bercanda dengan anak-anak.
Rosul suatu ketika pernah membariskan
3 anak kecil, abdulloh, ubaidillah, usayaroh. Anak-anak dari pamannya, Abbas. Silahkan
berlari menuju saya, siapa yang mendahulu yang lain, maka akan mendapatkan
sesuatu dari saya. Ada yang mendekap, loncat ke punggung. Rosul seang, mencium
mereka dan menujukkan rasa kasih sayang pada mereka. Ulama menyimpulkan, boleh
kita memberikan hadiah pada suatu perlombaan.
Contoh berikutnya, dari Anas bin
malik, dia sengaja disetahkan oleh ibunya untuk membantu Rosul. Saat itu anas
masih kecil. Rosul termasuk yang akhlaknya paling mulia. Suatu saat menyuruh
dia menunaikan hajat / kebutuhan beliau. Karena masih kecil, dia berkata, demi
Alloh saya tidak akan pergi (dalam hatinya, saya akan pergi). Anas keluar, di
tengah perjalanan, teman lain bermain, sehingga dia ikut bermain. Lupa menunaikan
perintah rosul. Akhirnya rosul datang ke tempat itu, memegang baju Anas, Yaa
Unes (anas kecil yang saya sayangi), apakah kamu tidak pergi ketika aku perintahkan?
Rosul tidak marah. Rosul tertawa. Anas, menjawab: Iya, saya akan jalankan
perintah engkau, sambil senyum.
Contoh berikutnya, Dari Mahmud
bin Robi, sahabat di madinah yang paling terakhir wafatnya. Saat itu masih 5
tahun. Pengalaman saat kecil teringat terus hingga tua. Ketika mendatangi rumah
saya, bertemu saya, ada ember berisi air bersih. Rosul mengambilnya, memasukkan
ke mulutnya, menyemburkan nya ke mahmud. Ingat bagimana rosul bercanda dengan
anak kecil.
Contoh berikutnya, Rosul bermain dengan
cucunya, hasan dan husein. Rosul merangkak, keduanya naik di punggung beliau.
Jabir berkomentar, alangkah nikmatnya ‘onta’ yang engkau naiki berdua. Rosul
kemudian mengatakan, alangkah indahnya dua penunggangku (memuji hasan dan
husain). Rosul tidak membuat anak-anak susah.
Dari abu Hurairah, Rosul pernah
mengeluarkan lidahnya untuk ditunjukkan ke cucunya, Husain. Sangat jelas warnah
merah itu. Agar Husein segera berlari menuju Rosululloh. Rosul mendekapnya. Begitulah
perlakukan rosul pada anak-anak. Dengan berbagai cara, agar anak-anak itu
bahagia, dapat merasakan kasih sayang.
Rosul sholat di masjid sebagai
imam, membawa salah satu cucunya. Ketika memulai sholat, cucunya di taruh di
sampingnya. Ketika sujud, lamaa seklai karena cucunya sedang menaiki punggung
beliau. Samapi sahabat khawatir, sehingga bangun dari sujudnya, melihat. Ternyata
beliau melihat anak kecil menaiki punggung. Kemudia beliau sujud kembali. Selesai
sholat, bertanya, wahai rosul, engkau sujud lama seklai. Kami kahwatir. Rosul menjawab,
tidak terjadi sesuatu yang membahayakan atau tidak sedang menerima wahyu, hanya
cucu saya menaiki punggung saya. Saya tidak suka mempercepat sujud saya
sementar cucu saya sedang menuntaskan hajatnya (bermain). Padahal ini memimpin
sholat dengan jamaah yang banyak. Bayangkan jika kita yang jadi imam.
Contoh lain, dari Aisyah. Saya pernah
bermain dengan anak perempuan yang lain di rumah Rosul. Bermain membuat boneka.
Begitu rosul masuk rumah, teman Aisyah bersembunyi di balik kelambu. Rosul menyuruh
melanjutkan main2 nya. Contoh lain, dari Anas bin Malik. Saat itu rosul masuk
rumah. Anas punya saudara, dipanggil aba umair. Umair punya hewan peliharaan burung.
Saat itu burung umair mati, Umair sedih sekali. maka rosul bertanya apa yang
terjadi? Mendengar jawbaan, rosul ikut berbela sungkawa, mengatkan yaa aba
umair, apa yang sudah dilakukan burung kecil itu? Rosul ikut berempati,
meskipun itu anak kecil, meskipun yang mati itu hewan bukan orang.
Hikmah dari hadist di atas adalah
: (1) Boleh bersendau gurau kecil dengan anak (2) boleh memelihara burung, yang
penting dirawat (3) mengajak bicara sesuai dengan perkembangan akal pikirannya
(4) berempati pada anak, merasakan apa yang dirasakan anak. (5) boleh memanggil
anak dengan panggilan lain dengan syarat orang yang dipanggil menerimanya
dengan senang hati. Boleh bercanda, asal jujur. Berhati-hatilah, jangan suka
berjanji kepada anak kecil. Jika berjanji tapi tidak dipenuhi, otomatis mengajari
anak kecil berbohong, tidak jujur
Tidak ada komentar:
Posting Komentar