Kamis, 30 September 2021

Penjelasan dengan tidak terang-terangan dan dengan bahasa isyarat

 

Untuk hal yang maulu dibicarakan, Rosul menggunakan cara menjelaskan dengan tidak terang2an dan dengan bahasa isyarat. Para ulama menggunakan kata umum untuk hal yang tabu, misalnya dengan kata menunaikan hajat, padahal itu bisa hajat ke pasar hajat ke sekolah dst. Yang dimaksud di sini adalah menunaikan kepentingan buang air kecil dan atau uang air besar

Dari Aisyah RA. Ada sahabat anshor asma’ binti Syaqari. Beliau bertanya pada nabi. Bagaimana cara mandi perempuan setelah haid. Ini biasanya tabu. Salah satu dari kalian, mengambil air dan masukkan daun bidara, fungsinya seperti sabun. Dahulu aun bidara ditumbuk, hasilnya dipakai seperti sabun untuk bersuci, baunya harum. Perbaikkan cara mandinya, tuangkan air ke kepala, kemudian di pijit sampai airnya sampai di kulit kepala. Ketika mandi wajib, harus lebih kuat daripada mandi biasa. Hendaknya mengambil kapas diberi wangi-wangian. (yang ini tidak wajib, tapi lebih dicintai, untuk menghilangkan bau). Selanjutnya bersihkan tempat keluarnya darah, diberi kapas dan wangi-wangian dan bilas dengan air.

Bagimana bersuci dengan kapas itu? tanya Asma’. Rosul menjawab, Subhanalloh. Yaa … sucikan dengan kapas itu. Asiyah ada di majelis itu, rosul memberi isyarat seakan-akan rosul menyuruh menjelaskan. Aisyah berbisik kepada asma, tidak terdengar yang lain. Intinya, rosul menjelaskan dengan tidak terang-terangan. Basuh sampai kepala. Mandi jinabat sama dengan mandi habis haid, bedanya hanya dengan kapas dan bidara. Sebaik-baiknya wanita adalah wanita anshor, karena tidak terhalangi dengan rasa malu untuk belajar agama.

Mengapa hal ini diajarkan? Karena kita sebagai guru sekaligus orang tua yang punya anak dewasa. Tealadani Rosul cara menyampaikan materi tabu.

Pelajaran 1. Penting bagi guru, mengucapka Subhanalloh jika ada murid tidak mengerti, padahal menurut kita itu sudah sangat jelas.

Pelajaran 2. Penting menggunakan bahasa kiasan ketika menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan aurat.

Pelajaran 3. Pentingnya bertanya pada orang yang alim, jika benar-benar ingin belajar, meski itu hal-hal tabu

Pelajaran 4. Cukup dengan penjelasan tidak terang-terangan atau menggunakan bahasa isyarat

Pelajaran 5. Pentingnya mengulang jawaban khususnya bagi penanya yang belum paham dengan jawaban.

Pelajaran 6. Boleh guru melibatkan siswa lain untuk menjelaskan penjelasan guru walaupun guru ada bersama mereka. Untuk penguatan.

Pelajaran 7. Boleh belajar dari orang yang secara keilmuan kurang, dihadapan orang yang secara keilmuan lebih afdhol. Seperti, Aisyah belajar dari Asma, padahal di situ ada rosul. Belajar untuk tidak malu bertanya.

Pelajaran 8. Memberikan kasih sayang ke peserta didik, dan memaafkan kalau ada yang belum paham, jangan langsung menyalahkan

Pelajaran 9. Menutupi aib dirinya sendiri. Hendaklah menghilangkan bau tidak sedap dengan mandi atau dengan bau wangi, untuk kebersihan diri sendiri. Alloh maha bersih dan menyukai hal bersih. Kadang, kalau terbiasa dengan bau tidak sedap, sulit diajak untuk bersih. Misal, mulut dan hidung itu dekat, tapi hidung tak mampu membau mulut yang tidak sedap.

Pelajaran 10. Bagi guru, jangan menjawab hanya untuk khusus penanya saja. Perhatikan juga untuk peserta didik yang lain.

Pelajaran 11. jangan sampai malu menghalangi untuk belajar. Malu sebagian dari iman yaitu malu untuk kebaikan bukan malu untuk menghalangi mendapatkan ilmu.

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar