Kamis, 02 September 2021

Mengajar dengan cara menginfokan balasan di hari akhirat

 

Dari sahabat abi Umamah, Rosul bersabda: Saya adalah penjamin di rumah (istana) di ujungnya syurga (di tepinya). Siapa itu? seseorang yang meninggalkan debat kusir, meskipun dia benar. Saya menjamin di tengahnya bagi yang meninggalkan berdusta, meskipun bercanda. Saya menjamin syurga yang tinggi bagi siapa yang akhlaknya mulia.

Berikutnya akan dijelaskan maslahat dan mudhorot dari akibat suatu perbuatan itu di dunia. Contoh orang tua yang menasehati anaknya, kalau jalan tengok kanan kiri agar selamat tidak celaka.

Hadist Muslim dari Abu Hurairah. Barang siapa yang memudahkan saudara sesama muslim karena kesulitan maka Alloh akan memudahkan dia di dunia dan akhirat. Maksud memudahkan seperti menghutangi, ketika deadline tidak mampu membayar, memudahkannya dengan menunggu bulan berikutnya dst. Ini adalah baik, tetapi ada yang lebih baik lagi, yaitu mengikhlaskannya (derajat tinggi).

Rosul mengkisahkan seseoran yang hidup  zaman dulu. Ada orang sering meminjami ke orang lain. Beliau memerintahkan pembantunya, untuk menagih. Kalau kamu   mendatangi mereka dan mereka dalam keadaan kesulitan, maka maafkan dan ikhlaskan. Semoga Alloh juga akan ridho dan mengikhlaskan kita. Kemudian orang tersebut wafat dalam keadaan Alloh sudah mengikhlaskannya (ridho). Barang siapa menutup aib saudaranya, maka Alloh akan menutup aib kita di akhirat. Jangan mencari aib saudara kita, segera tutup meskipun kita tahu detil.

Hadist lain. Rosul naik mimbar dan bersabda. Wahai yang sudah masuk islam dengan lisannya dan imannya belum menancap, maka jangan sekali kali menyakiti hati kaum muslim, jangan mencari-cari aibnya, jangan menyebarkannya. Barang siapa yang mencari aib saudara sendiri dan mneyebarkan maka Alloh akan mencari-cari aibnya dan menyebarkannya meskipun aib itu dilakukan sendiri di kamar. Kalau Alloh  membuka maka pasti semua akan tahu.

Lanjutan hadist di atas, Allah selalu menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong sesamanya. Alloh SWT akan memberi pertolongan yang lebih, ingat ini di dunia lho, bukan di akhirat. Bentuknya membantu orang yang membutuhkan, menolong yang lemah, memberi makan yang lapar, menolong orang yang lanjut usia. Bentuk pertolongan Alloh, memberi rizki yang tidak disangka-sangka, menolong saat kesusahan, menjaga kita dari musibah, menjaga dari musuh, dst.

Saat dari gua Hiro menemu Khadijah. Rosul berkata, Saya takut, apakah saya mengalami musibah? apa kata Khadijah. Tidak wahai suamiku, ini bukan suatu kejahatan. Pasti Alloh tidak akan mempermalukan engkau, karena engkau selalu jujur, membantu siapapun, selalu mencukupi, memuliakan para tamu. Seakan Khadijah meyakinkan rosul, siapapun yang membantu orang lain, pasti tidak akan mengalami musibah. Pasti Alloh akan membantunya.

Rosul pernah ditanya, wahai rosul siapa yang paling dicintai Alloh, Yaitu seorang yang bermanfaat pada orang lain. Amalan yang paling dicintai Alloh adalah orang yang membahagiakan orang lain, orang memberi makan orang lapar. Seandainya aku berjalan dengan orang yang punya kebutuhan, itu lebih baik daripada saya beriktikaf di masjid ini sebulan penuh.

Ibnu Abbas sedang Iktikaf, melihat seseorang sedang sedih dan bingung, kenapa kamu? iya saya berhutang pada seseorang tapi saya gak bisa bayar. Saya malu dengan penghuni kuburan ini (rosul). Ibnu Abbas berkata; Apakah kamu mau seandainya akau menyampaikan tentang keadaanmu pada yang memberi hutang kepadamu? Kalau itu maumu, silahkan. Ibnu Abbas segera bergegas ambil sandal. Ditanya sama orang itu, Kamu kan sedang iktikaf, (tidak boleh keluar masjid). Ibnu Abbas berkata, Saya mendengar penghuni kuburan ini, (perhatikan : luar biasa  penghayatannya pada rosul), pernah berkata barang siapa yang berjalan untuk membantu saudara yang membutuhkan sampai selesai itu lebih baik daripada iktikaf selama 10 tahun. Jadi membantu orang yang berkebutuhan itu hal utama. Ini manfaat di dunia luar biasa apalagi di akhirat.

Rosul melarang meminum khamr, ada manfaatnya, karena itu yaitu akan merusak akal. Jika diminum akan pasti melakukan larangan Alloh lain yang lebih besar lagi.

Hadis dari Abu Hurairah. Apabila seorang mukmin itu melakukan dosa, maka akan ada satu noda hitam di hatinya. Noda itu kecil dan besar berdasarkan dosanya. Apabila dia bertobat dan tidak kembali lagi dan beristighfar maka hatinya akan disucikan kembali. Noda hitamnya dihapus. Tetapi apabila terus bertambah tanpa pernah beristighfar, maka noda hitam itu bertambah banyak sampai menutupi hati tersebut. Dan itulah Ar’ rad (lihat : Al mutoffifin 14). Apa yang telah dilakukan telah menutupi hati mereka. Ketika noda itu menutupi semua, maka mata hatinya akan tertutup. Gelas teetutup tidak akan bisa menerima air. Kalau mata hati tertutup maka nasihat tidak akan pernah masuk. Bagaimana caranya, hilangkan  tutupnya agar air bisa masuk. Begitu juga dengan hati bersihkan hati dengan istighfar sehingga bisa merasakan nikmatnya sholat, nikmatnya Al Qur’an.

Berikutnya adalah tentang mendapatkan balasan dan hukuman di dunia. Hadis dari said bin zaid. Rosul bersabda, barangsiapa menghidupkan tanah yang mati (gak ada pemiliknya) maka tanah itu menjadi haknya. Maksudnya, misal tanah tak berpemilik kemudian kita tanami sehingga bermanfaat pada orang lain. Ini balasan di dunia. Balasan di akhirat, misalnya andai ada burung memakan tanaman kita, kita mendapatkan pahalan di akhirat nanti.

Rosul pernah bersabda ada 5 perkara, kalau kita lakukan maka hukuman balasan langsung di dunia akan datang, pertama yang utama yaitu kalau seandainya kemungkaran, kemaksiatan disebar-sebarkan, ditampak-tampakkan di umum, maka akan datang wabah penyakit yang tidak pernah ada sebelumnya. Misal, pornografi di HP menjadi hal biasa, maka akan ada Thoun yang tidak akan pernah ada sebelumnya. Covid-19 apakah termasuk? Intinya, Alloh menurunkan adzab kalau dosanya itu tersebar dan tidak ada yang mengingatkan. Tidak akan menurunkan adzab kalau kemungkaran itu ditutupi.

Ingat yaa, menggunakan metode memberi harapan dan ancaman itu harus seimbang.

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar