Kamis, 16 September 2021

Kisah Menepati Janji

 

Kita perhatikan kisah berikut. Diriwayatkan dari abu Hurairah. Dulu ada seorang laki-laki bani israil. Orang itu minta ke orang lain untuk pinjam uang 1000 dinar. Yang memberi hutang berkata, Saya akan beri, tolong hadirkan saksi. Karena tidak kenal. Antara yang hutang dan yang menghutangi, rumahnya terpisah dengan lautan. Orang yang berhutang berkata, cukup Alloh saja yang menjadi saksi. Kalau begitu hadirkan orang yang menjamin kalau hutang ini dilunasi. Cukup Alloh sebagai wakil. Kamu benar, kata yang menghutangi. Yang menghutangi memberi 1000 dinar dengan kesepakatakan dibayar dalam waktu tertentu.

Begitu waktu yang ditentukan untuk bayar hutang. Sudah disiapkan 1000 dinar. Tidak ketemu kapal. Ya Alloh sesungguhnya engkau tahu bahwa saya sudah niat membayar. Engkau sebagai penjamin dan saksi. Kemudian orang itu membuat kayu yang dilubangi, di isi 1000 dinar dihanyutkan, diberi tulisan uang ini untuk si fulan yang menghutangi saya. Tidak ada kapal dan tak ada orang lain. Di lain pihak ada orang menemukan kayu dan di bawah pulang, ada orang yang akan memotong kayu tersebut.

Orang yang berhutang akhirnya ketemu kapal, dan ketemu yang menghutangi. Dia mau membayar 1000 dinar dengan uang yang lain. Orang yang menghutangi berkata, Apakah kamu mengirim sesuatu ke saya?. Yang berhutang berkata, sudah saya katakan bahwa saya kan  tidak ketemu kapal. Dia tidak yakin kalau uang yang dihanyutkan tadi nyampai. Sesungguhnya Alloh sudah melunasi hutang kami, lewat kayu yang ada 1000 dinar tadi. Inilah pentingnya amanah. Ceritakan kisah ini ke siswa agar jadi amanah tanpa memerintah.

Ada 3 pelajaran dalam kisah tersebut (1) Bagi yang punya hutang, apabila berkeinginan kuat untuk melunasi hutangnya, hendaknya minta tolong kepada Alloh agar meringankan hutangnya (2) boleh, kalau berhutang tanpa ada saksi, cukup Alloh saja. Tetapi lebih baik meghadirkan saksi dan jaminan (3) yang berhutang harus menepati janjinya saat jatuh tempo (4) bertawakkal pada Alloh (5) kekuasaan Alloh itu tak terbatas. Kita harus yakin seyakin yakinnya. Bagaiman Alloh menyampaikan kayu berisi uang yang terombang ambilg di lautan tapi akhirnya sampai.

Perhatikan kisah berikutnya. Ada 3 orang bani Israil, kulit belang, gundul, buta. Alloh ingin menguji mereka dengan mngutus malaikat. Pada si Belang dikatakan, apa yang kamu sukai?. Saya suka warna kulit yang baik, karena orng lain risih jika ketemu saya. Malaikat mengusap kulitnya, penyakitnya hilang. Warna kulit yang bagus. Apa harta yang kamu inginkan?. Saya ingin onta. Diberikan onta yang bunting. Kemudian malaikat mendatangi orang yang gundul. Dia ingin rambut yang baik dan wajah tampan, diusap dan jadi ganteng. Apa harta yang kau inginkan?. Dijawab, saya ingin sapi. Alloh melalui malaikatnya memberi sapi yang bunting. Pindah ke yang buta, ditanyakan hal yang sama. Dia akhirnya bisa melihat kembali, sembuh. Harta yang diiginkan adalah kambing. Diberilah kambing  bunting.

 

Setelah waktu tertentu onta sapi kambing beranak pinak. Orang belang mempunyai satu lembah onta semuanya, yang gundul punya juga satu lembah sapi, dan yang buta punya satu lembah kambing semua. Malaikat datang dan minta onta. Saya dalam perjalanan, saya miskin, demi Alloh saya minta 1 onta untuk perjalanan saja. Lho, hak yang harus saya penuhi banyak sekali. bukankah kamu dulu miskin kulit belang. Oh tidak, saya dapat warisan ini hasil usaha saya. Jika kamu berbohong, Alloh mengembalikan kamu. Akhirnya kembali miskin. Sama dengan yang gundul. Tapi saat ketemu sang buta, ia memberikan bukan hanya satu kambing. Ambil semau kamu karena dulu saya buta, Alloh mengembalikan saya. Demi Alloh saya tidak memaksa kamu mengembalikan lagi. Malaikat berkata, sudah ambil saja, Alloh meridhoi kamu dan melaknat temanmu.

Hikmah kisah diatas adalah sebagai berikut. (1) Alloh bisa menguji kita dengan kekayaan. Bagaimana kita menggunakan kekayaaan itu. Bisa juga menguji dengan kekuasaan kita, apakah untuk menindas orang lain. (2) wajib mensyukuri nikmat. Rukun bersyukur, (a) harus mengakui itu semua dari Alloh (b) membicarakan nikmat itu pada anak-anak kita (c) menggunakan nikmat di jalan yang di ridhoi Alloh, jangan menggunakan yang dibenci Alloh.

Hikmah berkisah ada 2 bagi pendengarnya, yaitu : (1) pendengar Menikmati kisah nya (2) pendengar bisa mengabil pelajaran.  Cara berkisah yang baik (1) Pilih kisah yang relevan (2) Menjiwai saat berkisah, perhatikan intonasi (3) sampaikan cara mengambil ibroh dan (4) berdoa kepada Alloh semoga kita sendiri (gurunya) juga bisa mengambil pelajaran itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar