Kamis, 23 September 2021

Cara menyampaikan Materi yang Tabu

 


Contoh hukum berkaitan dengan baligh, alat reproduksi, tentang buang hajat atau hukum nikah, rumah tangga atau hukum khusus bab keputrian.

Biasanya rosul memberikan pendahuluan sebagai acuan. Kadang hanya memberikan isyarat. Kadang menerangkan kepada istrinya, kemudian istrinya kepada yang lain. Kadang sahabat bertanya, rosul menjawab. Kalau sahabat malu, menunjuk orang lain untuk bertanya. Memang malu sebagian dari iman. Jangan sampai rasa malu mendorong tidak mau bertanya. Jangan sampai rasa malu menjadikan guru tidak mau menjelaskan materi itu. Harus proporsional.

Cara 1. Menggunakan pendahuluan, acuan yang lembut dan ringan. Hadist dari Abu Hurairah. Sesungguhnya saya bagi kalian orang tua bagi anaknya. Seperti ayah bagi anaknya yang ingin mengajarkan sesuatu. Inilah mukodimah. Apabila kamu ingin menunaikan hajat maka janganlah menghadap qiblat dan jangan membelakanginya. Selanjutnya diperinci, yang bisa bikin malu untuk dibicarakan. Menggunakan istilah Al Qhoib = sesuatu yang keluar ketika kita buang hajat.

Mengapa menggunakan kata qiblat padahal yang dimaksud adalah Ka’bah. Karena tidak semua orang dekat dengan Ka’bah, sehingga yang digunakan kata Qiblat (untuk arah). Ini adalah Adab. Ini untuk mengagungkan Ka’bah. Rosul menggunakan kata Istinja’ untuk bersuci. Minimal 3 batu. Jika dirasakurang bersih boleh ditambahkan. Jika tisu, biasanya lebih dari 3. Jika menemukan air, itu lebih utama. Alloh itu mencintai orang bertaubat dan suka Thaharoh. Ini terkait penduduk madinah. Kebiasaanya bagus sekali, yaitu kalau membersihkan pakai batu plus air. Jangan sampai seperti orang barat. Kalau di bandara, tanpa membasuh dan keluar begitu saja dari toilet. Kebiasaan mencuci kaki setelah BAB dan BAK itu bagus.

Rosul melarang istinja’ menggunakan kotoran hewan yang sudah kering. Biasanya kalau kering hampir sama dengan batu. Mengapa demikian? Karena aslinya kotoran itu najis, sehingga tidak boleh untuk mensucikan. Rosul juga melarang istinja’ denga tulang hewan, apapun hewannya. Rosul menjelaskan detil agar jelas. Guru tidak boleh malu menjelaskan seperti ini. Rosul melarang istinja’ menggunakan tangan kanan.

Ibroh dari hadist tersebut adalah (1) Tawadhunya rosul di depan para sahabat. Menunjukkan kasih sayang, kelembutan ketika mengajar. Terbukti salman al farisi, apa yang dilakukan rosul (pemimpin kamu) ? Rosul mengajarkan segalanya keadaan kami sampai untuk urusan buang hajat. Untuk hal remeh aja diajarkan detil apalagi hal besar. (2) pentingnya pendahuluan yang ringan dan lembut, sederhana, mudah diterima. (3) wajib bagi bapak /wali untuk mendidik apa-apa yang dibutuhkan mereka terkait syariat. Ibnu Umar berkata, didiklah anakmu karena kamu akan ditanya tentang anakmu itu, apa yang kamu didikkan dan apa yang kamu ajarkan. Anak ditanya tentang berbakti dan ketaatannya kepadamu. Ternyata buka hanya kewajiban mendidik / mengajar, perlu berinfaq sebagai pendidikan bagi anak. (4) mulianya akhlaq rosul dan kasih sayang nya pada umat. Saya hanya untuk kalian, saya memposisikan bapak keadaan anak. Saya tumpahkan kasih sayang saya kepada kalian. Kasih sayang rosul pada umatnya lebih besar daripada kasih sayang orang tua pada anaknya. Karena kalau orang tua mengeluarkan anak dari tidak ada menjadi ada di dunia, sementara rosul mengeluarkan manusia dari dunia menuju syurga. (6) rosul seperti bapak dan istri rosul seperti ibu bagi orang muslim. Kalau istri rosul disebut ummahatul mukminan, kita disarankan tidak menyebut abul mukminin karena kedudukan risalah kenabian lebih utama daripada kedudukan kebapakannya. Sehingga Muhammad kita sebut rosululloh. Andai orang tua memerintahkan kita dan bertentangan dengan perintah rosululloh, maka perintah rosululloh lebih didahulukan. (7) pentingnya menghormati atau memposisikan kedudukan guru. Mengapa? karena guru punya fungsi mengangkat kebodohan menuju ke ilmu. Jika ilmu diinfakan tidak akan habis, sementara harta akan hilang. Kedudukan guru itu tinggi di sisi Alloh. Yang diajarkan guru itu ilmu, ilmu bisa meninggikan derajat seseorang di sisi Alloh.

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar