Kamis, 02 Juli 2020

Cara Menyelesaikan Masalah

Salah satu adab guru pada murid adalah bagaimana menyelesaikan masalah siswa. Pertama, kita harus paham bahwa pendidikan itu pasti disertai problematika termasuk dampak-dampak. Orang tua juga mempunyai problematika dalam mendidik anak-anaknya. Guru (sebagai hakim) harus memiliki sikap yang baik terhadap hal ini. Banyak ortu menyikapi masalah dengan 2 cara (metode) yang salah, yaitu (1) bersikap menyerang, menyalahkan anak (siswa). Yang ke (2) lari dari masalah. Membiarkan begitu saja. Maka yakin masalah itu tidak selesai. Terus bagaimana sebaiknya?


1.       Guru harus mengetahui betul masalah tersebut. Letakkan masalah tersebut dengan benar. Ada masalah besar ada yang kecil. Keduanya berbeda cara penanganan nya. Masalah kecil bisa terselesaikan dengan pura-pura tidak tahu. Atau keluar sebentar diselesaikan kemudian. Atau keputusan cepat. Jika masalah itu besar, tidak bisa ditinggalkan begitu saja atau hari itu juga. Tentu butuh keputusan hati-hati dan tepat.

2.       Untuk menyelesaikan  masalah ada 5 pertanyaan penting untuk mengetahui masalah, yaitu
a.       Apa sebenarnya yang terjadi
b.      Dimana itu terjadi
c.       Kapan masalah itu terjadi
d.      Bagaimana kejadiannya
e.      Mengapa hal itu terjadi

Pastikan kita mengetahui sebab masalah. Karena ini penting. Ada 4 hal paling penting yg harus ketahui dan sepakati sebelum penyelesaian masalah siswa, yaitu :
a.       Masalah itu pasti ada di setiap orang, ada di setiap tempat dan ada di setiap waktu. Jika masalah itu terjadi pada kita, yakinlah terjadi juga di tempat lain atau di waktu yang lain.
b.      Setiap masalah dibaliknya (di dalamnya) pasti ada kebaikan. Bisa jadi kamu itu membenci sesuatu, namun bisa jadi itu baik di pandangan Alloh SWT.. Kewajiban guru adalah mencari kebaikan-kebaikan dalam setiap masalah.
c.       Setiap masalah pasti ada solusi. Hadits sesungguhnya Alloh tidak akan menurunkan penyakit kecuali ada obatnya, kecuali kematian. Solusi itu bisa diketahui, bisa jadi tidak diketahui. Kita harus yakin bahwa Alloh akan membantu kita. Solusi itu bukan yang mustahil. Jika tidak yakin maka mustahil masalah itu terselesaikan.
d.      Manusia berbeda cara pandang terhadap masalah. Bisa jadi menurut orang, itu masalah menurut yang lain bukan msasalah. Sebab perbedaan sudut pandang diantaranya watak, latar belakang pendidikan, materi dan seterusnya. Menurut orang kaya itu masalah tapi menurut orang miskin tidak dan begitu sebaliknya. Yang penting adalah pandai mencari ukuran masalah tersebut. Apakah masalah itu besar atau kecil, atau mungkin itu bukan masalah. Harus tahu sebab masalah dan berusaha maksimal untuk menyelesaikan dengan cara yag sesuai.

3.       Kaidah untuk memudahkan menyelesaikan suatu masalah
a.       Pahami betul bahwa asal masalah itu pada perilaku, maka guru harus ada rasa keterpanggilan untuk bisa menyelesaikan. Jangan menyudutkan siswa terhadap masalah perilaku siswa. Jadikanlah siswa bisa mengambil pelajaran dari kesalahan yang dilakukan. Alloh mengajarkan dari kesalahan sahabat yang lain. 70 sahabat wafat saat perang Uhud. Kenapa kalah? Umat islam instropeksi dan akhirnya tidak terjadi di waktu berikutnya. Rosul pernah mengajarkan cara sholat pada orang yang salah dalam sholatnya. Oleh karenanya jadikan siswa belajar dari kesalahan. Jangan memojokkan siswa akibat salahnya itu.

b.      Perbanyak pujian ketika siswa melakuan kebaikan. Contoh, Alloh itu mencintaimu, semoga Alloh memberkahi, good, excellent, bagus, dan seterusnya. Ini merangsang siswa untuk melakukan kebaikan yang lebih banyak lagi. Menghidarkan siswa melakukan kejelekan. Berlatihlah memberi pujian  yang tulus dan ikhlas.

Juga boleh dengan kalimat, perbuatan kamu ini membuat saya takjub.  Kalau ini disampaikan di depan siswa, maka siswa akan melakukan lebih. Ini untuk pujian. Jangan menggunakan kalimat: kamu gagal, kamu gak paham, kamu bodoh, dst. Jangan menggunakan kalimat negatif. Bahaya dalam diri siswa. Yang akan timbul dari pikiran siswa sepeti ini, berarti saya ini saya nakal, Saya bodoh, saya dan lain sebagainya. Jadi perbanyaklah pujian.

c.       Gunakan metode tenang, jujur, tanggung jawab. Hindari cara yang dipakai oleh para kritikus. Kita bukan polisi yang menghakimi. Jangan menyerang. Kalimat: Mengapa kamu melakukan ini? Ini akan membuat siswa bohong. Kalau merasa terpojok, siswa akan bohong. Atau lebih parah lagi, kalau cara ini terus disampaikan, lama-kelamanan anak kita jadi keras kepala. Jadikan hubungan kita dengan anak saling menerima saling memahami. Jangan seperti polisi, cari kesalahan. Jangan bertanya langsung. Apakah kamu sudah sholat? Sebaiknya ganti dengan kalimat kapan kamu akan sholat? Ini akan membuat mereka jujur.

Termasuk hal ini, kita harus benar-benar memikirkan, sebelum masaah itu benar-benar terjadi. Apa yang akan dilakukan jika anak kita berbohong?. Apa yang harus kita lakukan jika kita menemukan hal aneh di sakunya, milik orang lain. Darimana itu? pikirkan itu sebelum terjadi. Untuk para ibu misalnya, apa yang akan ibu lakukan jika melihat anaknya merokok, atau memliki rokok.  Pikirkan, apa yang harus dialkukan. Cari solusi itu dengan tenang. Tanya ke pakar pendidikan, lihat di buku-buku tentang solusi masalah terkini, termasuk di internet. Sehingga kita bisa mengambil pelajaran dari eksperimen orang lain, yang pada akhirnya kita tahu cara tepat menyelesaikan masalah itu. Di poin ini, jangan meremehkan cara, pilih cara penyelesaian yang terbaik untuk setiap masalah. Teruslah belajar dan berdoa agar masalah terselesaikan.

d.      Harus fokus dan jangan lupa perhatian pada hal-hal yang merusak kepribadian. Contoh, Jika kita bangun rumah dari sisi kiri tetapi ada orang lain yang merusak dari sisi kanan, maka tidak kan bisa terbangun rumah itu dengan baik. Bisa jadi masalah terselesaikan tapi kita lupa tidak terus memantau,  agar akan terjadi lagi. Contohfilm  kartun, nyayian bersyahwat, menyerupai pemain bola bertato. Publik figur yang melakukan kegiatan haram. Ini termasuk yang berbahaya, merusak kepribadian.

Kita harus betul-betul memikirkan masalah sebelum masalah itu terjadi. Ini adalah Pendidikan solutif (sesuai dengan pendapat pakar pendidikan islam). Bagaimana ortu mengajarkan adab, minta izin masuk kamar. Ada 3 waktu yang dilarang melihat aurat. Inilah salah satu cara mendidik akhlak. Jika anak usia 10 tahun, pisahkan di tempat tidurnya (hadist). Jangan sampai bercampur, berbahaya. Inilah contoh pendidikan sebelum terjadinya masalah, dari Alloh dan rosulnya.

e.      Yakinlah perubahan tidak terjadi cepat. Pendidikan butuh kesabaran, karena buahnya sangat besar. Bahkan ada yang bertahun tahun perubahannya. Tidak bisa sehari, atau seminggu. Rosul pernah merayu mengajak anak pamannya, tidak berhasil masuk islam. Menunggu sampai 21 tahun, dialah kholid bin walid, panglima perang hebat. Masuk islam setelah fathul makkah. Berjuluk Syaifulloh. Dari kafir menjadi muslim, menjadi panglima yang luar biasa.

Seorang ustad pernah mengajar anak nakal di arab saudi.  Seperti kita tahu, anak arab nakal-nakal. Ternyata apa yang terjadi, Alloh memberi hidayah. Ketika bertemu, anak tersebut, anak itu  berkata ustad, saya sudah berubah. Beliau melihat sosok yang berbeda. Oleh karenanya, jangan putus asa dalam mendidik anak. Orang kafir qurasy terkenal keras kepala. Sempat terucap, seandainya keledai (khottob/bapaknya umar) tidak masuk islam pasti umar juga tidak akan pernah masuk islam. Ternyata khottob tidak masuk islam, dan umar malah menjadi tulang punggung perjuangan islam.

f.        Kaidah terkahir, dalam membantu menyelesaikan masalah adalah jangan berhenti dan bosan mendoakan anak-anak kita untuk kebaikan mereka. Tentu disertai usaha-usaha yang konkrit.  Agar Alloh memperbaiki kita dan anak-nak kita. Ini jadi sebab Alloh memberi hidayah pada kita. Boleh, saat berdoa didengar oleh anak2 kita. Dengan doa yang diperdengarkan itu mereka akan berusaha mewujudkan doa itu. Bahkan ini disarankan agar dengan terbiasa mendengar doa mereka berusaha mewujudkan itu.

Doa itu senjata orang mukmin dan dapat melembutkan hati anak. Jangan putus asa. Ingat bahwa sebaik-baiknya manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain. Rosul tidak pernah berkata-kata dari hawa nafsunya, tapi itu dari Alloh SWT. Guru harus bermanfaat bagi anak-anak kita. Siapa yang menunjukkan kebaikan maka dapat pahala juga dari anak yang melakukan kebaikan itu. Jika kita pernah diajar oleh ustadz baca dzikir tertentu dan kita lakukan, maka guru tersebut juga dapat pahalanya. Ini penting. Rosul bersabda, Alloh SWT kalau memberi hidayah melalui dirinya (guru) maka  itu lebih baik dari seekor onta yang paling mahal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar