Kamis, 09 Juli 2020

Bagaimana cara memberi reward dan punishment?


Pertama kita harus meyakini bahwa pemberian reward dan punishment adalah metode yang bisa diteladani dari Alloh. ini adalah manhaj robbani.  Alloh memberi hukuman sesuai yang diperbuat manusia dan memberi balasan orang baik dengan pahala.

Kedua, reward dan pusnisment itu kebutuhan manusia, (1) untuk mewujudkan rasa keadilan (2) untuk memperbanyak amal baik dan meminimalkan amal yang tidak baik (3) untuk menjaga hubungan dengan manusia (4) untuk menyebar luaskan rasa hormat dantaat pada peraturan, UU, syariat agama.

Ketiga, Sebagai guru harus meyakini bahwa punishment itu bermacam bentuk dan variasinya tergantung pada hal – hal berikut (1) kondisi siap yang memberinya, bisa ayah, guru, manajemen, atau politisi (2) variasi hukuman anak SD berbeda dengan anak SMA. Contoh hadiah mobil tidak cocok untuk anak TK (3) kemungkinan itu memungkinkan atau tidak diberlakukan (4) tabiat yang memungkinkan itu diberikan hukuman atau penghargaan.

Keempat, kita harus tahu bahwa reward dan punishment dibagi 2, yaitu maknawi dan materi. Maknawi tidak membutuhkan sesuatu yang bersifat materi, misal reward berupa (1) isyarat, panggilan dengan nama lengkap, atau sifat karakter yang mulia, julukan yang bagus, anak yang juara, atau (2) dengan memberi pujian, seperti:  luar biasa, semoga Alloh memberkahi, semoga Alloh memberi kebaikan dst. Itu semua itu tidak membebani kita. (3) kita menerima siswa dengan penerimaan yg baik (4) senyuman kita dengan pandangan mata yang ridho. (5) memberikan tugas tertentu, contoh tugas untuk merapikan buku, memberikan tanggung jawab sebagai ketua kelas dsb. Seperti yag dicontohkan Rosul, Abduloh bin Ja’far pernah duduk di belakang rosul saat naik onta. Rosul bicara kepadanya dengan secara rahasia, artinya Rosul percaya betul. Rosul berkata, Saya memberikan ucapan yang saya tidak berikan ke yang lainnya.

(6) Hukuman anggap sudah berlalu dan tidak memberi  hukuman lagi (7) memberi salam ketika bertemu (8) dengan sentuhan lembut untuk meyakinkan siswa dengan dibarengi dioa kebaikan. Rosul pernah menyentuh dengan lembu . mereka terkesan dan sampai dewasa tidak melupakannya. Rosul berkata, wahai anakku, sambil memegang tangan. Sampai dewasa sahabat tersebut tidak lupa. Tentu rambil rosul sambil mendoakan. Hal penting berikutnya yang semua orang bisa melakuakan adalah senyuman. Yakinkan kepada siswa bahwa reward maknawi itu diberikan karena sebab apa. Kaitkan dan lakukan dengan tulus, krena dia sudah melakukan kebaikan. Sehingga itu mengena di hati siswa.

Reward meteri, pemberian berupa materi seperti (1) hadiah, uang, barang yangg berharga, piala dan  medali. Rosul pernah berdiri jauh dari 2 anak pamannya. Beliau mengatakan siapa yang duluan sampai ke beliau, beliau memberi hadiah. Rosul memotivasi untuk mendapatkan hadiah (2) sertifikiat, piagam penghargaan untuk membedakan prestasi dengan yang lainnya. (3) nama yg berprestasi dicatat, diabadikan, diumumkan di dinding sehingga seluruh warga mengenal.

Hukuman yang bersifat maknawi. (1) meihat dengan pandangan kurang senang dengan perbuatan yg dilanggar (2) tidak melihatnya. Tunjukkan bahwa guru tidak suka melihat pelanggaran, sehingga siswa berubah (3) hukuman dengan tidak diajak bicara. Rosul pernah tidak mengajak bicara kaab bin malik 50 hari karena tidak ikut perang tabuk. Mengisiolasi kaab dari sahabat yang lain. Hhukuan tidak bisa dilakukan semua guru. Harus dilakukan murrobi yang benar-benar mencintai muridnya. Berjiwa murobbi dan benar2 dekat dengan siswa. Jika tidak demikian maka siswa malah mengucapkan alhamdulillah.

(4) suatu perkataan yang menjelekkan membuat siswa itu marah. Dengan syarat pelanggaran itu sangat berat. Tidak bisa untuk semua guru. Rosul pernah berkata dengan sahabat karena menghina sahabat lain, kamu yag berkulit hitam, sghingga rosul menegur, sungguh kamu masih tersisa karakter jahiliyah. (5) menakuti dngan hukuman. Ini termasuk pendidikan antisipasi agar tidak diulangi lagi (6) mengisolsi atau menjauhkan dari teman-temannya, bisa dengan cara perlu dikeluarkan dari kelas. Suasana gaduh menjadi lebih tenang. Tentu maksudnya harus baik.

Berikut ini adalah contoh-contoh hukuman materi (1) menjauhkan melarang siswa untuk mendapatkan reward. (2) hukuman fisik yang tidak meyakitkan, hanya untuk pendidikan bukan yang lain, contoh berdiri di kelas dalam waktu tertentu, atau tugas dengan sedikit berat dari yang lain. (3) kalau melanggar diberi peringatan dipanggil ortunya, biasanya siswa ada perasaan takut. (4) memisahkan siswa jauh dari kegiatan yang biasa dinikmati oleh temannya, contoh tidak boleh ikut studi tour dsb.

Bagaimana ukuran reward punisment yang baik itu? Reward punishment harus teratur, jangan sampai mendholimi siswa. Jika terjadi lebih berbahaya. Jangan sampai hukunan kecil padahal pelangaaran besar atau sebaliknya. Jangan terlalu banyak, tidak akan berfungsi, malah siswa akan merasa banyak peraturan. Sedikit saja tetapi bisa mendidik.

Bagian pentingnya adalah (1) Jangan sampai terjadi yang seharusnya dapat hukuman malah mendapatkan reward dan sebaliknya. (2) pemberikan reward  sedikit yang penting variasi, siswa tergugah menjadi lebih baik, tujuan pembelajaran tercapai (3) Reward dan Punishment harus dilakukan guru yang bersangkutan. Diharamkan untuk diwakilkan. Jika melihat siswa melanggar yang memberi hukuman adalah guru tersebut bukan ke guru lain. Sebagai bapak atau  ibu, jangan mewakilkan hukuman kepada orang lain. (4) harus bertahap dalam memberi hukuman dari yang kecil sampai yng besar jangan terbalik, begitu juga untuk yang hadiah. Ungkapan arab mengatakan bahwa, jangan sampai meletakkan dengan  pedang jika bisa selesai cukup dengan lisan.

Berikutnya (5) harus jeli mempehatikan perbedaan individu krena beberapa siswa cukup dengan isyarat, tapi siswa lain butuh nasihat, bimbingan personal. Penting perbedaan masing-masingsiswa yang dibimbing berdasarkan umur, emosi, kecerdasan dll. (6) memenuhi janji, kalau berjanji mau menghukum, penuhi janji tersebut, jika tidak akan berbahaya. Ini akan berpengaruh, akan  menimbulkan ketidakpercayaan siswa. (7) masalah niat. Jangan sampai niat memberi reward itu dengan niat salah. Bisa menjadi riswah, hati-hatilah. Kalau ingin memberi penghargan, adalah untuk memotivasi dan memuliakan siswa bukan mengharap dapat lebih. Jika memberi hukuman niatkan untuk mendidik dan membimbing ke arah yang baik, bukan untuk menjelekkan siswa, bukan untuk mempengaruhi siswa dst. Lillahi ta’ala.

Selanjutnya adalah kaidah tentang nasihat umum pemberian reward dan punishment.  Kaidah pertama, pemberian reward punishmnet hanya bertujuan memberi motivasi, nuansa berlomba dalam kebaikan, bukan untuk saling mendengki. Kaidah (2) guru harus sudah membuat kesepakatan dulu dengan siswa, apa yang boleh apa yang tidak boleh. Jangan sampai belum ada kesepakatan tetapi menghukum. Bisa jadi siswa dihukum tetapi dia merasa tidak salah.

Kaidah (3) jangan memberi hukuman ketika anda sedang marah. Ini berbahaya. Anda akan meberi hukuman terlalu berlebihan atau sangat menyakitkan. Dihindari. Seorang hakin tidak bleh memutus jika sedang marah. Pikirkan sebelum meberi hukuman, bagaimana cara menyadarkan siswa dan siswa merasa puas. Pikirkan bagaimana memberi hukuman sampai siswa tersebut mau meniggalkan kesalahan nyatersebut. Butuh ketenangan, jeli dan jauh dari emosi.

Kaidah (4) seandainya siswa melakukan salah tetapi kecil dan ringan, sebaiknya maafkan buat siswa meilih jika melakuakn kesalahan lagi, kira2 hhukumannya apa, sehingga siswa tsb bisa bertanggung jawab atas kesalahannya. Biarkan siswa memilih sendiri hukumannya. Agar siswa tidak merasa terdholimi. Semoga tidak kembali lagi pada kesalaahn yag dilakukan. Belajar dari kesalahan sendiri.
Kaidah (5) melakukan evalusi pengaruh pemberikan reward dan punishment. Apakah reward punishment yang diberikan itu benar-benar berpengaruh pada siswa sehingga menjadi lebih baik. Jika iya bisa dilanggengkan, jika tidak, maka kita harus berpikir lagi apalagi reward dan punishment yang sesuai, yang berdampak, yang dapat merubah perilaku tidak baik siswa.

Harus berhati – hati saat memberikan reward dan punishment. Takutlah pada Alloh ketika memberikan reward dan punishment. Karena hal itu bisa berpengaruh lebih baik atau malah sebaliknya, bisa berpengaruh lebih jelek. Niatkan dengan tulus ikhlas, agar siswa ingat sama guru ketika dewasa kelak. Kita sekarang menjadi baik juga karena guru-guru kita terdahulu.

Apakah boleh menghukum semua siswa karena kesalahan salah satu siswa? Jangan memberi hukuman karena kesalahah orang lain. Setiap orang dihukum sesuai dengan kesalahan yang diberikan. Jangan mempermalukan orang lain. Kecuali kalau untuk memuliakan orang tersebut. Kalau dalam satu ruangan, mau sholat, salah satu ada yang buang angin, guru tidak mempermalukan. Semuanya dipersilahkan wudhu, ini demi menutup rasa malu.

Sesuatu yang baik tidak boleh dijadikan hukuman, seperti membaca Al Qur’an atau menghafalnya. Siswa akan menganggap bahwa hal yang biak itu (membaca Al Qur’an) sebagai hukuman. Jangan memberi hukuman seperti ini, kecuali di madrasah itu ada kewajiban yang mewajibkan siswa ada target membaca al quran sekian juz atau menghafal surat A sampai surat B. Hal ini untuk menuntaskan target sekolah bukan untuk hukuman.

Reward punishment pada pembelajaran daring tetap bisa dilakuan. Contoh  jika melakukan kesalahan, siswa dikurangi waktu bermainnya atau diberikan tugas dobel. Jangan sekali-kali melarang siswa untuk mendapat hak-hak utama, seperti tidak boleh makan, tidak boleh minum. Yang bleh adalah hukuman yang bersifat tambahan saja, bukan hak-hak pokok.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar