Saat tulisan ini dibuat, sedang
ramai diperbincangkan pemberhentikan Kurikulum 2013 (K13). Walau lebih dari 6410
sekolah masih boleh melanjutkan, nampaknya arah pemberhentian total K13 semakin
kentara. Sepertinya K13 yang dirancang, disosialisasikan, dan dilatihkan dengan
dana besar hanya berumur jagung. Kita akan melihat pro dan kotra hingga
beberapa saat ke depan. Penulis tidak dalam posisi pro maupun kontra. Yang
menjadi pertanyaan mendasar adalah mengapa kurikulum sering berganti, namun
prestasi belajar peserta didik tidak beranjak baik.
Finlandia hanya menerapkan 4-5
jam sekolah, tetapi output nya luar biasa. Muridnya pintar-pintar. Bandingkan
dengan sekolah di negeri ini. Dari Senin hingga Sabtu, dari pagi hingga lepas tengah
hari, bahkan adanya mendekati senja. Dengan muatan pelajaran yang lebih banyak
tidak menjamin anak negeri ini lebih kreatif dan lebih cerdas menyelesaikan masalah.
Jangankan masalah keluarganya, masyarakatnya, atau negaranya, masalahnya
sendiri saja sulit terpecahkan. Malah kadang mereka menjadi bagian dari masalah
itu sendiri. Sering kan kita jumpai anak sekolah yang terlambat, keluyuran pada
jam kosong, malas mengerjakan PR, hingga tawuran antar sekolah.
Mengapa pendidikan kita tidak
maju? Jawabnya singkat dan jelas, yaitu karena gurunya tidak maju. Jangan
pernah berfikir negara ini akan hebat jika guru-gurunya tidak hebat. Manusia Indonesia
hari ini adalah produk pendidikan masa lalu. Pendidikan masa sekarang menentukan
seperti apa Manusia Indonesia masa depan. Jika guru mengajarkan materi dan
mengunakan metode persis seperti mereka kuliah dulu, maka tidak akan pernah
lahir generasi yang lebih baik. Karena
itu sudah dianggap usang. Belum lagi jika remaja-remaja pintar negeri ini tidak
mau menjadi guru. Yang akan terjadi adalah lahirnya generasi kualitas rendah,
yang akan menjadi obyek kemajuan zaman. Mereka akan terkaget-kaget dengan
teknologi peradaban dunia yang melaju dengan mega speed. Mereka akan terseok-seok,
semakin jauh tertinggal dan mungkin akan dilibas zaman.
Pertanyaan berikutnya adalah mengapa
guru-guru kita tidak maju? Jawaban pertanyaan inipun jelas. Karena mereka sibuk
mengajar, tapi tidak pernah belajar. Mana mungkin seseorang memberi (ilmu)
jika periuk ilmu nya tidak senantiasa di isi. Mustahil guru bisa memberikan
lebih jika yang dipunyai pas-pasan. Sementara di luar sana kita diterjang
banjir informasi. Informasi yang didapat siswa mungkin lebih dulu daripada
gurunya. Sebelum gurunya menjelaskan suatu hal, mungkin siswanya lebih tahu
terlebih dahulu. Maka tidak heran jika suasana kelas menjadi ‘mati’, tidak ada
gairah menuntut ilmu, karena ruh belajar tercerabut. Yang ada hanya sekumpulan
anak pendengar pasif, dan mengerjakan tugas akademik seperti robot.
Andai guru mengajar 24 jam
(seperti yang dipersyaratkan dalam sertifikasi), maka guru cukup mengajar dalam
5 hari, Senin sampai Jum’at. Rata-rata per hari 4-5 jam pelajaran. Sisanya bisa
digunakan untuk hal produktif lain. Rapat
guru, menyusun naskah soal tambahan, menganalisis kesulitan belajar
siswa, membuat PTK, mengoreksi hasil pekerjaan siswa, membuat LKS dan
seterusnya. Jadi yang perlu dilakukan guru adalah belajar, belajar, belajar,
baru mengajar.
Terus hari Sabtunya? Hari Sabtu
adalah hari belajar bagi guru. Kalau perlu ini diformalkan, dipantau, dan dikawal habis-habisan. Mengapa demikian?. Agar
program belajar guru ini terstruktur dan terukur. Agar tahu kalau ada
peningkatan kompetensi guru, peningkatannya sejauh mana? Apa yang perlu
ditingkatkan? Dengan cara bagaimana? Dan seterusnya. Belajar bisa dengan teman
sejawat atau bertukar dengan guru dari sekolah lain. Bisa model diskusi
kelompok, bisa sarasehan, bisa pelatihan, dan bisa workshop. Pertanyaan
kemudian, terus siswanya bagaimana? Libur, dengan tugas mandiri terstruktur.
Jadi guru belajar, siswanya juga belajar di rumah.
Sudah saatnya kita galakkan GERAKAN SABTU BELAJAR bagi Guru.
Setuju?

Sabtu adalah akhir pekan kalau di Finlandia :D
BalasHapussetuju ...
BalasHapus@anisa ustadzah, sabtu tu akhir pekannya murid apa guru apa keduanya???
Jangan hanya menyalahkan guru.... Guru juga perlu hidup sejahtera. Jadi mengajar dimana-mana.
BalasHapusGuru juga tidak mau mengajarkan terlalu banyak materi, tapi apa daya dari dinas kurikulumny itu sangat padat materi. Serasa dikejar2 materi.