Evaluasi diri adalah bagian dari muhasabah diri. Jika itu selalu dilakukan dlam doa dan dzikir dan dalam hal apapun, maka amalan ini beranfaat bagi di dunia maupun akhirat. Apalagi jika dalam proses pembelajaran. Ini penting. Seorang ulama berkata, seorang hamba akan selalu dalam kebaikan selama dia senantiasa dalam evaluasi diri. Ini termasuk kecenderungan untuk selalu dalam kebaikan.
Sebaliknya jika tidak, sangat berbahaya. Ini berarti
tidak ada yang menasehatinya. Disebutkan imam Ahmad bahwa dikisahkan hikmah
yang bisa diambil dari keluarga nabi Daud. Seorang hamba yang berakal tidak
lalai dalam 4 waktu. Jika kita meneladani nabi Daud, selayaknya meniru beliau,
tidak lalai tentang 4 waktu.
Pertama, sediakan waktu proposional untuk
bermunajad pada Alloh. Siapkan waktu tertentu (yang istimewa) untuk berdialog
dengan Alloh SWT. Ini paling utama. Kedua, waktu untuk eveluasi diri kita
sendiri. Wajib, apakah kita itu sudah sholat subuh tepat waktu? Apakah sudah
melaksanakan sholat dhuha? Apakah sudah membaca al qur’an atau belum. Apakah sudah
menuntaskan pekerjaan? Harus dilakukan terus menerus. Ketiga, siapkan waktu
untuk bersama mitra dakwah kita yang sholih. Agar teman yang sholeh itu
memberikan saran bagi kita. Jika ada aib, bisa saling menutupi, bukan malah
sebaliknya. Keempat, siapkan waktu untuk menikmati hidup kita. Menikmati yang
halal yang diberikan oleh Alloh SWT. Ada waktu untuk menyempurnakan waktu
sebelumnya. Untuk menyempurnakan waktu kehidupan kita. Untuk membahgaian diri
kita dan orang di sekitar kita. Umar bin Khottob, berkirim surat pada
pegawainya, yang isinya memerintahkan: evaluasi dirilah kalian dalam keadaan senang
sebelum kalian mengevaluasi diri dalam keadaan susah. Sebab jika ini dilakukan maka
semua urusan akan menjadi tenang dan dalam keridhoaanNya.
Ungkapan ulama’. Seorang mukmin itu bisa
mengatur dirinya sendiri, termasuk mengevaluasi dirinya karena semata-mata
karena Alloh. Hasan Basri berkata, jika terbiasa mengevaluasi diri maka di
akhirat, hisabnya diringankan. Perhitungan hisab akan jadi ringan bagi orang
yang terbiasa mengevaluasi diri. Sebaliknya hisab akan menyulitkan bagi orang
yang jarang melakukannya. Termasuk juga pada urusan dunia. Insyalloh, hidup kita
akan terus meningkat.
Berikutnya tentang bentuk-bentuk evaluasi diri
pada pembelajaran. Ada 2 bentuk, yaitu (1) bentuk evaluasi diri ketika
melakukan pekerjaan atau sebelumnya melaksanakan pekerjaan. Apa yang dievalauasi?.
Pertama, bertanya dulu tentang niat. Apakah niat sudah benar. Apakah benar-benar
sudah mendarah daging niat itu? apakah tujuan pelajaran sudah jelas Untuk kita
raih?. Apakah tempat (termasuk daring) sudah siap? Apakah murid kita sudah siap
untuk menerima pelajaran dsb.
Contoh bagaimana rosul melakukan persiapan yang
luar biasa. Ketika rosul menyiapkan pasukannya pada perang badar. Padahal Alloh
sudah menjamin. Saat itu umat mukmin seperti bangunan yang kokoh. Rosul
memerintahkan membuat barisan yang lurus. Sawad berdiri agak maju sedikit ke
depan. Rosul membawa kayu (busur panah), mendekati dan memukul dengan ringan. Bagi
sawad menyakitkan dan terkejut. Sempat berkata, wahai rosul engkau sempat
membuat aku sakit demi Alloh yang mengutusmu, aku akan membalas pukulan ringan
ini.
Rosul mempersilahkan sawad. Rosul membuka baju,
terbuka perut Rosul, beliau tidak mau mendholimi seorangpun. Ini artinya rosul
memberikan contoh bagaimana berbuat adil itu. berkata Rosul, balaslah wahai
sawad. Sawad maju, tiba2 dia memeluknya dan mencium perut rosul. Rosulpun
terkejut. Wahai sawad apa yang mebuatmu melakukan ini? Wahai rosulloh, engkau
melihat apa yang akan kita lakukan. Kita perang, bisa saja saya akan mati. Aku ingin
kulit saya bersentuhan dengan kulit engkau sbelum wafat. Maka Rosul mendoakan
beliau.
Bentuk kedua adalah evaluasi setelah
pembelajaran. Ini ada 3 macam, yaitu (1) apakah saya sudah melaksanakan tugas
amanah yang diamanahkan ke saya (2) Apakah saya sudah melaksanakan pembelajaran
yang jangan-jangan kalau saya tinggalkan itu lebih baik (3). Bertanya bagaiana
caranya agar perbuatan yang sudah dilakukan itu terus meningkat. Ketiga pertanyaan
ini harus terus kita pertanyakan pada diri kita.
Selanjutnya sisi-sisi yang harus kita evaluasi
saat evaluasi diri. Pakar pendidikan menyebutkan diantaranya (1) evaluasi
tujuan dan persiapan. Apakah tujuan pembelajaran sudah sesuai dengan capaian
pembelajaran. Apakah langkah-langkah pada pembelajaran nanti sudah benar? (2)
metode pembelajaran dan medianya. Apakah sudah melakukan variasi? Apakah video,
ppt sudah siap? Apakah metodenya tidak menoton? (3) kedaan kondisi lingkungan
tempat pembelajaran. Apakah susana kelas nyaman? Tidak terlalu panas/dingin? Apakah
tulisan kita terbaca? (4) hubungan kita dengan murid. Apakah kita sudah
mengenal semua murid yang akan kita ajar? Jangan sampai ada murid yang belum
kita hafal namanya. Jangan sampai kita menguji dan berlaku tidak adil padanya. (5)
cara metode strategi teknik mengajar. Apakah gerakan kita sudah merata ke
seluruh penjuru kelas. Apakah murid kita merindukan metode kita?. Jika murid
senang berarti ada kesuksesan. Berikutnya yang ke (6) Apakah kita sudah
mengetahui standar murid kita. Apakah tugas yang kita berikan itu memberatkan. Kita
harus bisa mengukur kompetensi murid, sehingga tugas bisa dilakukan dengan
senang tanpa siswa itu merajuk, tanpa putus asa. (7) kesadaran kita untuk
mengembangkan diri. Berapa banyak kita bertukar pikiran sesama teman. Berapa banyak
kita belajar pada senior. Buku apa yang dibaca untuk meningkatkan kompetensi
kita. Berapa banyak seminar yang telah kita ikuti.
Semua hal di atas itu baik dan penting, namun yang
paling penting adalah minta bimbingan Alloh. Maka apa yang kita lakukan itu
(mengevaluasi diri) tidak ada manfaatnya jika tidak ada ridho dari Alloh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar