Kamis, 03 September 2020

Pengaruh, Bentuk, dan Sisi-sisi Evaluasi Diri

Lentera Hijrah: Evaluasi diri Kita Suatu Keharusan -  Gomarketingstrategic.com

Evaluasi diri adalah bagian dari muhasabah diri. Jika itu selalu dilakukan dlam doa dan dzikir dan dalam hal apapun, maka amalan ini beranfaat bagi di dunia maupun akhirat. Apalagi jika dalam proses pembelajaran. Ini penting. Seorang ulama berkata, seorang hamba akan selalu dalam kebaikan selama dia senantiasa dalam evaluasi diri. Ini termasuk kecenderungan untuk selalu dalam kebaikan.

Sebaliknya jika tidak, sangat berbahaya. Ini berarti tidak ada yang menasehatinya. Disebutkan imam Ahmad bahwa dikisahkan hikmah yang bisa diambil dari keluarga nabi Daud. Seorang hamba yang berakal tidak lalai dalam 4 waktu. Jika kita meneladani nabi Daud, selayaknya meniru beliau, tidak lalai tentang 4 waktu.

Pertama, sediakan waktu proposional untuk bermunajad pada Alloh. Siapkan waktu tertentu (yang istimewa) untuk berdialog dengan Alloh SWT. Ini paling utama. Kedua, waktu untuk eveluasi diri kita sendiri. Wajib, apakah kita itu sudah sholat subuh tepat waktu? Apakah sudah melaksanakan sholat dhuha? Apakah sudah membaca al qur’an atau belum. Apakah sudah menuntaskan pekerjaan? Harus dilakukan terus menerus. Ketiga, siapkan waktu untuk bersama mitra dakwah kita yang sholih. Agar teman yang sholeh itu memberikan saran bagi kita. Jika ada aib, bisa saling menutupi, bukan malah sebaliknya. Keempat, siapkan waktu untuk menikmati hidup kita. Menikmati yang halal yang diberikan oleh Alloh SWT. Ada waktu untuk menyempurnakan waktu sebelumnya. Untuk menyempurnakan waktu kehidupan kita. Untuk membahgaian diri kita dan orang di sekitar kita. Umar bin Khottob, berkirim surat pada pegawainya, yang isinya memerintahkan: evaluasi dirilah kalian dalam keadaan senang sebelum kalian mengevaluasi diri dalam keadaan susah. Sebab jika ini dilakukan maka semua urusan akan menjadi tenang dan dalam keridhoaanNya.

Ungkapan ulama’. Seorang mukmin itu bisa mengatur dirinya sendiri, termasuk mengevaluasi dirinya karena semata-mata karena Alloh. Hasan Basri berkata, jika terbiasa mengevaluasi diri maka di akhirat, hisabnya diringankan. Perhitungan hisab akan jadi ringan bagi orang yang terbiasa mengevaluasi diri. Sebaliknya hisab akan menyulitkan bagi orang yang jarang melakukannya. Termasuk juga pada urusan dunia. Insyalloh, hidup kita akan terus meningkat.

Berikutnya tentang bentuk-bentuk evaluasi diri pada pembelajaran. Ada 2 bentuk, yaitu (1) bentuk evaluasi diri ketika melakukan pekerjaan atau sebelumnya melaksanakan pekerjaan. Apa yang dievalauasi?. Pertama, bertanya dulu tentang niat. Apakah niat sudah benar. Apakah benar-benar sudah mendarah daging niat itu? apakah tujuan pelajaran sudah jelas Untuk kita raih?. Apakah tempat (termasuk daring) sudah siap? Apakah murid kita sudah siap untuk menerima pelajaran dsb.

Contoh bagaimana rosul melakukan persiapan yang luar biasa. Ketika rosul menyiapkan pasukannya pada perang badar. Padahal Alloh sudah menjamin. Saat itu umat mukmin seperti bangunan yang kokoh. Rosul memerintahkan membuat barisan yang lurus. Sawad berdiri agak maju sedikit ke depan. Rosul membawa kayu (busur panah), mendekati dan memukul dengan ringan. Bagi sawad menyakitkan dan terkejut. Sempat berkata, wahai rosul engkau sempat membuat aku sakit demi Alloh yang mengutusmu, aku akan membalas pukulan ringan ini.

Rosul mempersilahkan sawad. Rosul membuka baju, terbuka perut Rosul, beliau tidak mau mendholimi seorangpun. Ini artinya rosul memberikan contoh bagaimana berbuat adil itu. berkata Rosul, balaslah wahai sawad. Sawad maju, tiba2 dia memeluknya dan mencium perut rosul. Rosulpun terkejut. Wahai sawad apa yang mebuatmu melakukan ini? Wahai rosulloh, engkau melihat apa yang akan kita lakukan. Kita perang, bisa saja saya akan mati. Aku ingin kulit saya bersentuhan dengan kulit engkau sbelum wafat. Maka Rosul mendoakan beliau.

Bentuk kedua adalah evaluasi setelah pembelajaran. Ini ada 3 macam, yaitu (1) apakah saya sudah melaksanakan tugas amanah yang diamanahkan ke saya (2) Apakah saya sudah melaksanakan pembelajaran yang jangan-jangan kalau saya tinggalkan itu lebih baik (3). Bertanya bagaiana caranya agar perbuatan yang sudah dilakukan itu terus meningkat. Ketiga pertanyaan ini harus terus kita pertanyakan pada diri kita.

Selanjutnya sisi-sisi yang harus kita evaluasi saat evaluasi diri. Pakar pendidikan menyebutkan diantaranya (1) evaluasi tujuan dan persiapan. Apakah tujuan pembelajaran sudah sesuai dengan capaian pembelajaran. Apakah langkah-langkah pada pembelajaran nanti sudah benar? (2) metode pembelajaran dan medianya. Apakah sudah melakukan variasi? Apakah video, ppt sudah siap? Apakah metodenya tidak menoton? (3) kedaan kondisi lingkungan tempat pembelajaran. Apakah susana kelas nyaman? Tidak terlalu panas/dingin? Apakah tulisan kita terbaca? (4) hubungan kita dengan murid. Apakah kita sudah mengenal semua murid yang akan kita ajar? Jangan sampai ada murid yang belum kita hafal namanya. Jangan sampai kita menguji dan berlaku tidak adil padanya. (5) cara metode strategi teknik mengajar. Apakah gerakan kita sudah merata ke seluruh penjuru kelas. Apakah murid kita merindukan metode kita?. Jika murid senang berarti ada kesuksesan. Berikutnya yang ke (6) Apakah kita sudah mengetahui standar murid kita. Apakah tugas yang kita berikan itu memberatkan. Kita harus bisa mengukur kompetensi murid, sehingga tugas bisa dilakukan dengan senang tanpa siswa itu merajuk, tanpa putus asa. (7) kesadaran kita untuk mengembangkan diri. Berapa banyak kita bertukar pikiran sesama teman. Berapa banyak kita belajar pada senior. Buku apa yang dibaca untuk meningkatkan kompetensi kita. Berapa banyak seminar yang telah kita ikuti.

Semua hal di atas itu baik dan penting, namun yang paling penting adalah minta bimbingan Alloh. Maka apa yang kita lakukan itu (mengevaluasi diri) tidak ada manfaatnya jika tidak ada ridho dari Alloh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar