Jumat, 28 Agustus 2020

Waiting List Unlimited

Kepada Kamu yang Masih Saja Menunggu 

Ada yang ribuan tahun, setalah lama menungu akhirnya bisa masuk syurga. Mereka ingin masuk syurga tapi karena waiting list, jadi tertunda. Oleh Alloh sengaja diperihatkan Surga. Baik syurga maupun di neraka ada orang-orang yang kita kenal saat di dunia. Sehingga komentar kita bisa begini, Oh itu yang terkenal dengan mengkomersialkan ilmu, agama dst. Oh itu yang pendusta. Itu yang kenalan kita yang luar bisa baiknya. Meraka sangat ingin masuk syurga. Ketika yan di lihat neraka, komentar orang tersbut Jangan jadikan kami seperti mereka ya Alloh. Bahkan mereka bisa membalas kaum elit yang dulunya menghinakan kaum alit. Kaum alit ini justru dipersilahkan masuk ke tempat yang penuh kenikmatan yang didalamnya tidak ada rasa khawatir. Sementara yang menghinakan orang yang beriman, rasakan sendiri apa yang kau kumpulkan (harta, pamgkat, dll). Hari ini tak ada gunanya kesombongan itu. Meraka juga masih bisa melihat bagaimana ketika penghuni neraka merengek agar ada minuman atau makanan yang dilemparkan .

Ada waiting list yang tak berujung. Karena imannya lenyap disebabkan ucapan dan perbuatan mereka. Waiting list unlimited, tak berhingga. QS. Al A’rof 40, yaitu Orang yang mendustakan, mecela, mencaci maki ayat-ayat kami, menunjukkan melecehkan ayat kami (dianggap ajaran kuno, sejak 1400 tahu kok masih digunakan, ketinggalan zaman, sehingga harus direvisi). Dia merasa lebih hebat dari Alloh yang menurunkan. Intinya mendustakan, ini bisa dengan ucapan. Mereka tidak percaya kitab suci, mereka bilang bohong semua dst. Hari ini, tidak sedikit orang yang seperti itu. Misal omngan begini, hari ini China sudah ke luar angkasa, kok masih menghafal Al Qur’an. Ada juga yang mendustakan dengan perbuatan. Ini tidak kalah dengan mendustakan dengan ucapan, yaitu  takbbur. Agar tidak takabbur, biasakan bertnya kamu berasal dari apa? Dari setetes air HINA. Sekarang kok jadi penentang. Kita dari lumpur, apa yang disombongkan. Tidak akan masuk syurga jika ada hati nya ada takabbur, walau kecil.

Langit menutup pintunya untuk orang seperti itu. tak satupun pintu langit yang mau menerima mereka. Apa hanya itu yang ditolak? Bahkan rohnya pun tidak bisa naik ke langit untuk menghadap Alloh. Juga amal kebaikan mereka, meskipun mereka berbuat demi kemanusiaan. Ini berbeda dengan orang beriman, Alloh akan mengakat amal soleh orang yag beriman, pintu langit dan pintu syurga dibuka lebar-lebar.

Pada orang yang mendustakan ayat Alloh, ketika sakarotul maut, malaikat duduk di atas kepala orang yang sekarat tersebut. Dikatakn padanya, hai jiwa yang busuk, roh yang jahat, keluarlah kamu sekarang menuju murkanya Alloh. Begitulah malaikat maut menyeru dengan bengis. Penderitaan yang paling puncak, ketika ruh keluar dari tubuh. Rosul saja merasakan sakit, sampai rosul berkata ummati, ummati, ummati. Beliau minta untuk menanggung seluruh penderitaan ummatnya saat sakarotu maut. Gelar ummi itu artinya nabi yang sangat penyayang pada ummatnya. Nabi tidak berkata hai anakku, hai sahabtku, hai mantuku dst. Yang diingat hanya ummatnya.

Izroil melanjutkan bahwa ruh orang yang mendustakan ayat Alloh tersebut keluar dengan bau busuk, yang busuknya tidak ada yang mennadinginya. Seperti baunyu nya bangkai yang paling busuk. Tidak melewati sekelompok malaikat, melainkan malaikat itu mengeluh. Ini bau apa kok sangat busuk. Sampainya ruh itu hanya di langit terbawah. Minta di bukakan langit terndah, namun langit yang terbawah pun tidak mau menerima. Tertutup bagi orang yang mendutakan agama.

Tidak akan masuk syurga orang yang semacam itu, sampai ada onta yang bisa masuk lubang jarum. Ini immpossible. Tidak ada orang yang bikin jarum dengan lobang besar. Kalaupun ada, untuk apa? Ini artinya selamanya tidak akan bisa masuk syurga. Seperti itulah kami membalas orang-orang mengejek agama Alloh. Selanjutnya mereka akan menimati siksa neraka. Kasurnya di neraka itu adalah api, ditambah lagi selimut berupa api. Ditutup dari segala arah. Api itu menyelimuti mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar