Kamis, 06 Agustus 2020

Batasan Guru dan Murid

Relasi Guru & Murid Bukan Sekadar Hubungan Transaksional ...

Tulisan ini dibuat bertepatan dengan Hari arofah, sangat mulia. Turun banyak malaikat. Rosul memberitahu kita bahwa, hari ini terbaik. Alloh berfirman, apabila ada yang berdoa, pasti akan dikabulkan. Mari mulyakan hari ini dengan banyak kebaikan dan amal-amal sholih sehingga Alloh menurunkan rahmat dan memberi ampunan pada semua dosa kita. Karena fadhilah yang luar biasa, mari perbanyak sedekah, dzikir, tilawah dst. Para ulama biasa mengakhirkan doa-doa sampai di hari arofah, karena pasti diijabah. Hampir semua doa yang dilantunkan di hari Arofah dikabulkan oleh Alloh SWT.

Setiap orang banyak permintaannya. Ada yang minta riski berupa anak, istri yang sholihah, rohmat Alloh, ampunan, harta dst. Yakinlah bahwa Alloh mengabulkan itu semua. Jangan sampai dalam doa itu ada unsur yang menyakiti orang lain. Mari kita berdoa dengan adabnya. Bagaimana itu? (1) harus memulai dengan tahmid, (2) baca sholawat, (3) mengulang dengan penuh keyakinan, (4) angkat tangan dengan penuh harap.

Hari ini banyak saudara kita seiman banyak yang berpuasa. Siapa yang puasa Alloh akan mengampuni dosa kita 1 tahu yang lalu dan 1 tahun yang akan datang. Agungkan dengan banyak ibadah. Termasuk wanita yang tidak bisa berpuasa, hendaklah memperbanyak amal kebaikan, berdoa, sedekah, dan berdzikir. Orang yang ada uzur syar’i mendapat pahala seperti orang yang tidak ada udzur syar’i. misal karena sakit atau musafir.

Apakah ada batasan kedekatan guru-murid. Kuncinya, tidak boleh dekat sekali dan jauh sekali. boleh dekat, jangan lupa status sebagai guru. Bersenda gurau terlalu banyak. Ada saatnya kapan tertawa dan kapan serius. Bahaya sekali kalau dekaat sekali, sekan akan guru itu teman karib yang bisa diajak canda tawa, maka akan diremehkan murid. Sebaliknya jika terlalu jauh, maka murid juga menjauhi sehingga ilmu itu tidak sampai ke murid.

Boleh guru bersendau guru, tetapi adabnya adalah seimbang. Tidak terlalu sering, tidak terlalu banyak. Rosul juga begitu tidak banyak bersenda gurau dengan para sahabat. Tidak boleh menghina atau membiarkan muridnya saling menghina di depan guru. Jika terjadi dan tidak ada tindakan, akan mengurangi wibawa guru. Akan mengenal guru sebagai orang yang suka menghina.

Guru harus menjadi pendengar yang baik. Meskipun sudah pernah mendengar cerita itu. Dengarkan dengan seksama dan simak dengan serius, dengan rasa menghormati. Maka murid akan menyimpulkan gurunya menghargai dia. Pura-puralah belum pernah mendengar cerita itu. termasuk mengfungsikan murid. Artinya, jika kita sudah menerangkan dengan baik. Kita menyuruh murid yang pandai untuk menjelaskan kepada murid yang lain. Bisa jadi, murid yang kurang paham menjadi lebih paham karena penjelasan temannya.

Contoh yang diteladankan rosul. Dulu sahabat saling menjelaskan, saling memberikan pelajaran. Sampi rosul datang. Rosul mendengar. Benar sekali saudara kamu itu. penjelasan saudaramu benar sekali. kadang komentar sangat benar sekali. guru yang baik, memberikan kesempatan pada muridnya untuk menjelaskan kepada temannya yang lain. Tetap harus dibawah pengawasan guru.

Guru perlu mengajari muridnya di luar kelas. Mengajari kebaikan. Ketika istirahat, menasehati murid; jaga sholat, baca al qur’an, belajar bahasa. Ini penting, kadang murid terinspirasi saat di luar kelas. Mengapa kamu menjadi ulama’ yang diakui. Saya bisa belajar seperti orang lain. Yang membuat istimewa adalah belajar di luar kelas. Mendapat pelajaran dari nasihat guru di luar kelas.

Guru berusaha semaksimal mungkin masalah murid, meskipun itu di luar materi pelajaran. Ini sangat membekas dalam diri murid. Sampai datang ke rumah, jika murid itu ada masalah di rumahnya, guru boleh membantu menyelesaikan masalah murid itu dengan bapaknya. Ini sangat baik. Andai itu sukses, maka apa yang dilakukan guru itu akan membekas, tidak pernah terlupakan dalam hidupnya.

Cara menghadapi murid yang sudah besar tetapi perilakunya masih seperti anak-anak. Kita harus membedakan 2 hal, (1) harus bisa membedakan benar-benar tidak bisa mengerjakan tugas itu (2) sebenarnya bisa, tetapi tidak mau. Untuk yang (1) mudah, karena ada kemauan. Kita jelaskan sampai benar benar bisa. Jika tidak bisa dari kita, bisa digunakan guru yang lain. Yang (2) lebih sulit. Ini tetap menggunakan cara 1, tetapi dengan halus, bimbingan. Jika tetap tidak bisa, beri sangsi yang mendidik.

Bagi yang mahasiswa atau SMA, perlu guru memanggil dan bicara empat mata, di ruang sendiri. Bicara dari hati ke hati, sampai benar-benar kita tahu masalahnya. Jika tetap 'ngeyel', bisa guru memberitahukan bahwa apa yang kamu lakukan itu berpengaruh ke nilai akhir. Atau diberi ancaman, dipanggil ortunya, agar mereka tahu bahwa murid tersebut melakukan yang tidak baik. Peraturan juga memungkinkan dikeluarkan dari sekolah. Boleh membuat mereka marah karena ucapan kita, tetapi tetap jaga adab. Jangan sampai emosional.

Cara lain, memberikan murid dengan tanggung jawab. Bisa jadi ini lebih manjur. Dikisahkan rosul menemui banyak anak puber bermain-main dengan cara mengumandangkan adzan. Murid menirukan ustad, terkesan main-main. Ternyata rosul menyuruh setiap anak mengumandangkan adzan satu per satu. Ternyata salah satu suaranya merdu, sehingga rosul memilih abu mahduroh untuk menjadi muadzin tetap di daerah tersebut. Ternyata menjadi orang yang bertanggung jawab dengan tugas yang diberikan.

Guru sudah menyiapkan hadiah. Ternyata dicuri salah satu murid. Guru tahu murid itu. sehingga diamanahi untuk menjaga hadiah-hadiah itu, setelah sebelumnya memuji bahwa yang bersangkutan itu amanah. Ternyata sejak itu tidak ada kehilangan. Dan murid itu berkesan terhadap guru itu.

Guru perlu menyiapkan materi ice breaking saat jeda. Bisa permainan, atau pelajaran hikmah. Atau kisah kisah humoris, yang membuat murid tertawa lepas. Perlu yang bervariasi. Jika guru tidak bisa, guru boleh memilih salah satu murid untuk bercerita sehingga membuat anggota kelas tertawa. Pasti ada salah satu murid yang humoris.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar