Sebelum kita mengetahui tujuan,
urgensi dan metode evaluasi diri, sebaiknya kita tahu apa itu evaluasi diri.
Dia semakna dengan muhasabah. Sesuai dengan firman Alloh, Wahai orang yang
beriman, bertaqwalah dan hendaklah melihat apa yang sudah dilakukan. Alloh maha
mengetahui dan maha teliti apa apa yang kita lakukan.
Di era modern, evaluasi sering
dilakukan. Untuk menentukan keberhasilan suatu program. Ini sangat penting,
untuk kemaslahatan kita. Seorang guru harus terus menerus mengevaluasi diri.
Kemampuan seorang guru menilai bagaimana proses pembelajaran dilakukan dengan
jujur dan melihat dirinya. Ingat perkataan umar, evaluasi diri kalian sendiri
sebelum kalian dievaluasi Alloh di akhirat kelak. Ini melihat apa yang sudah
dilakukan, apa yang sudah dikerjakan, sekaligus memperbaikinya. Ini juga
termasuk evaluasi di keluarga, untuk kebaikan bersama.
Kemampuan menilai diri sendiri
ketika mengajar. Tentu dilakukan dengan jujur. Jika ada kekurangan, harus
diperbaiki. Evaluasilah tujuan pembelajaran, sudah tercapai atau belum.
Termasuk metode dan medianya. Di akhir, di evaluasi apakah siswa kita sudah
berhasil sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Pertama, tujuan evaluasi diri adalah (1) untuk mengukur tingkat keberhasilan
yang dilakukan. Dengan ini kita bisa melihat kekuranga pembelajaran kita
sehingga ada perbaikan. (2) untuk meyakinkan bahwa ilmu yang disampaikan itu
betul2 sampai ke siswa. Ibaratnya, Ilmu itu sebagai amanah. Ilmu kita ambil
dari sumber nya (Alloh) kemudian kita sampaikan kepada siswa kita. (3) untuk
mengetahui sisi kelebihan dan kekurana kita. Setipa orang punya itu. Jika kita
tahu kelebihan itu, jaga, pertahankan dan tingkatkan. Jika menemukan
kekeurangan, perbaiki sehingga ilmu yang disampaikan benar nyampai (4) untuk
meningkatkan dan memperbaiki secara kontinu standar guru.
Evaluasi pihak luar, bisa jadi
manajemen (kepala sekolah, dinas pendidikan). Pihak luar tujuannya pengawasan.
Mengawasi peefoma kinerja guru. Yang kedua adalah mengevaluasi. Yang ke tiga
adalah menilai guru. Apakah gurtu ini layak untuk naik golongan dsb. Atau guru
ini membutuhkan pelatihan, seminar, dsb. Ke empat adalah kepentingan
adminstratif. Dengan demikian bedanya, evaluasi luar dengan evaluasi diri
adalah kalau evaluai luar itu untuk membantu pihak yayasan baru membantu guru.
Sedangkan evaluasi diri itu membantu guru terlebih dulu baru membantu pihak
yayasan.
Berikutnya, urgensi evaluasi diri bagi guru. Pertama, bisa mengukur performanya. Contoh ada 2 guru. Sama-sama
memulai megajar. Durasi mengajar 5 tahun. Guru A, setiap tahun dia mengevaluasi
diri, di tahun ke dua dia akan meningkat performanya. Begitu seterusnya.
Artinya guru A ini mempunyai 5x pengalaman perbaikan diri. Guru B tidak
melakukan evaluasi. Apa yang diajar tetap. Guru kedua ini hanya mengulang ulang
performanya selama 5 tahun.
Urgensi kedua, adalah bisa menilai dirinya sendiri sebelum dinilai orang
lain. Secara naluri tidak suka jika dinilai orang lain. Karena biasa dicari
kurangnya. Dengan demikian dengan evaluasi diri, kita bisa mepersiapkan diri
kalau suatu saat dievaluasi orang lain. Urgensi ketiga, bisa memperbaruhi dan memperbanyak variasi metode dan
media, sehingga kemampuannya semakin menigkat. Akan meningkat juga wawasan di
materinya, terbatrukan dan tidak jumud. Urgensi ke empat, merasa ridho terhadap dirinya dan merasa bahagia telah
meningkatkan kemampuan. Urgensi kelima,
jika dengan evaluasi diri guru itu puas, maka guru tersebut akan berusaha terus
menerus untuk menjadi yang terbaik. Semangat ini perlu terus dijaga.
Berikutnya adalah metode (cara) mengevaluasi diri. (1)
menulis sesuatu yang bersifat pekanan tentang performa. Tuliskan kelebihan dan
kekurangannya. Pekan berikutnya tulis lagi dan seterusnya. Perbaiki yang kurang
dan pertahankan yang sudah baik. (2) mengambil pendapat dari siswa yang kita
ajar, tenatng media dan metode yang kita gunakan. Siswa bisa menuliskan masukan
tanpa menyebut nama. Jika ada kritik jangan samapai marah, jangan sampai mebuat
benci pada siswa tersebut. Ambil manfaatnya ambil baiknya, untuk memperbaiki
performa. (3) merekam performa ketika mengajar dan melihat ulang. Jika ada
kurang, bisa dilakukan perbaikan. Ingat setiap orang itu berbeda. (4)
mengundang partner kita untuk mengahdiri ketika kita mengajar. Kita minta dia
meberi masukan. Untuk membandingkan performa kita dengan teman kita.
Semata-mata untuk meningkatkan kualitas. Bisa juga kita sendiri yang melihat
orang lain mengajar. Belajar dari orang lain. (5) dengan diskusi sesama partner
mengajar. Biasanya diskusi secara langsung lebih bermanfaat daripada sekedar membaca buku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar