Selasa, 28 November 2017

Copete Celaan Hu


Ada tiga aliran dalam proses mendidik anak.

Pertama, aliran yang mengatakan bahwa setiap anak yang melanggar aturan harus dihukum. Anak yang terlambat datang di sekolah harus diberi hukuman. Siswa yang tidak mengerjakan tugas / PR juga diberi punishment. Anak yang usil dengan temannya juga harus di setrap. Bentuk hukumanpun bisa beragam Anak yang ketinggalan buku pelajaran juga harus diperlakukan khusus, berdiri 2 jam di belakang kelas misalnya. Dan seterusnya. Prinsipnya setiap guru berhak menghukum siswanya. Toh, Orang tua telah menyerahkan proses pendidikan kepada sang guru. Apa yang dilakukan guru demi kebaikan si anak. Proses penegakan aturan ini harus di kawal oleh sang guru. Jika tidak, maka bisa jadi kejadian serupa yang dianggap melanggar bisa ditiru siswa yang lain.

Kedua, aliran yang mengatakan bahwa tidak boleh ada hukuman pada siswa. Menghukum anak dianggap TABU dan pelanggaran berat bagi sang guru. Pada prinsipnya anak tidak pernah salah. Kalaupun dia berbuat salah mungkin karena dia tidak tahu. Andaikan dia tidak mengerjakan tugaspun, bisa jadi sia anak belum paham atau belum mengerti. Bisa jadi sang guru kurang pandai memotivasi. Atau guru tidak terampil menjelaskan materi sesuai dengan tingkat kognisi siswa. Jika ada anak yang usil dan mengganggu temannya harus diberi nasihat positif dengan pilihan kalimat yang bijak. Sebaliknya sang anak yang berhasil terhadap sesuatu, sekecil apapun itu harus diberi hadiah. Reward yang diberikan harus bervariasi. Minimal tepuk tangan dan acungan jempol. Apresiasi untuk anak dianggap mampu membuat prestasi lebih dan membuat anak lebih percaya diri.

Ketiga, aliran yang tengah-tengah. Guru boleh menghukum jika dianggap sudah keterlaluan. Keterlaluan ini beragam penafsiran. Tergantung mood sang guru. Sesuai kebijakan dan kebjaksanaan guru masing-masing. JIka pas aura guru baik, hukuman yang semestinya diberlakukan bisa menjadi sirna atau setidaknya lebih ringan. Bisa jadi gara-gara sang anak ini anak emas atau anak pejabat penting. Kalimat yang dipakai guru, boleh menghukum asal bla–bla bla. Batasan ini biasanya dituangkan dalam bentuk tata tertib. Dalilnya sesuai dengan aturan yang berlaku. Namun demikian aliran ini tendensiaus. Bisa condong ke aliran pertama, atau condong ke aliran kedua. Mengapa demikian, karena tidak ada aturan baku kapan sang guru boleh menghukum, kapan tidak.

Agar tidak terjadi ranah abu-abu pada aliran ketiga di atas, berikut ini langkah-langkah yang bisa diambil agar keputusan menghukum siswa TEPAT. Prosedur ini harus dijalani sebelum keputusan final menghukum diberlakukan. Tahapan ini biasa dinamai Copete Celaan Hu, yaitu :

1.       Co (Contoh)
2.       Pe (Peringatan)
3.       Te (Teguran
4.       Ce (Cegah)
5.       La (Larangan)
6.       An (Ancaman)
7.       Hu (Hukuman)

Tidak boleh seorang anak itu dihukum sebelum diberi contoh oleh gurunya. Bagaimana seharusnya bertindak harus dicontohkan oleh guru dengan jelas dan detil. Anak tidak boleh dihukum gara-gara pekerjaannya tidak rapi jika sang guru belum memberi contoh. Anak tidak boleh dihukum gara-gara terlambat, jika guru belum beberi contoh disiplin masuk kelas. JIka contoh sudah berikan dan anak masih melanggar, baru diberi peringatan. Guru mengingatkan bagaimana mestinyaa. Apabila masih juga melanggar, si anak ditegur. Guru harus mencegah agar tidak berlanjut, apabila sang anak setelah ditegur masih melanggar. Langkah berikutnya guru boleh melarang berbuat ini dan itu, jika dicegah masih tidak mempan. Jika berulang masih seperti itu guru boleh memberi ancaman. Ini adalah peringatan terakhir. Apabila akhirnya si anak benar-benar melanggar barulah sang guru memberi hukuman. Langkah-langkah di atas harus dilalui dengan sabar dan telaten, karena guru adalah mendidik bukan sekedar mengajar. Tidak boleh ada langkah yang dihilangkan atau melompat langsung ke langkah yang lebih tinggi resikonya.

Nah, sudahkah kita melakukan prosedur di atas?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar