Ada tiga unsur utama dalam proses
mengajar. Ketiganya tidak bisa dipisahkan. Saling terkait dan terintegrasi.
Tiga hal tersebut adalah Qur’anic, Logic, dan Retoric. Untuk mempermudah,
penulis beri nama tric, yaitu tiga-ic, karena tiga unsur tersebut berakhiran
ic. Penjelasannya sebagai berikut ini.
Pertama, Qur’anic. Kitab
suci ini otentik sampai akhir zaman, karena Alloh SWT sendiri yang menjaganya. Kebenarannya
mutlak. Jika berbeda dengan akal, maka akallah yang hatus menyesuaiakan. Hal
ini karena akal belum mampu menjangkau makna yang ada di dalamnya. Dia memuat
segala macam ilmu, baik ilmu nyata seperti ilmu ekonomi, sosiologi, matematika,
ilmu perang dst maupun ilmu ghoib seperti syurga, malaikat, kiamat dst. Termasuk
di dalamnya ilmu mendidik.
Oleh karenanya setiap apapun yang
diajarkan oleh guru kepada muridnya harus merujuk kepada Al Qur’an. Jika tidak,
guru akan kesasar atau keberkahan
ilmu itu akan hilang. Al Qur’an sumber inspirasi yang tidak akan pernah habis,
karena dia mu’jizat yang lezat bagi akal maupun hati. LIteratur utama ini tidak
salah karena bersumber pada yang Haq. Dia adalah ibu dari segala ilmu. Dia
menjadi pelita bagi guru dalam membimbing peserta didiknya. Lisannya akan mudah
menyampaikan kebenaran karena terbisa melafadzkan ayat suci.
Kedua, Logic. Ilmu apapun
yang diajarkan guru memerliukan logika. Logika yang baik dan benar akan
mengantarkan para pembelajar pada kebenaran. Ilmu boleh berubah, boleh berkembang,
bahkan boleh berganti, logika tetap diperlukan. Logika bukan semata-mata
kecerdasan bawaan yang tidak bisa dilatih dan ditularkan. Logika bisa diasah
dan diajarkan, tentu dengan cara terstruktur dan sistematis. Seorang guru yang
logikanya bagus, maka dia akan mampu menyampaikan meteri dengan lugas dan
berterima bagi siswanya. Logika guru yang bagus juga tidak akan bertentangan
dengan Al Qur’an. Mengapa demikian? Karena logika makhluk masih jauh di bawah
logika sang Khaliq. Jadi sebelum mengajarkan banyak hal, sebaiknya dipastikan
bahwa cara berpikir dan logika guru sudah tertata dengan baik. Ini mensyaratkan
bahwa seorang guru haruslah cerdas.
Ketiga, retoric. Setinggi
apapun ilmu yang dimiliki sang guru tidak akan sampai ke pendengar jika tidak
disajikan dengan retorika yang memikat. Penjelasan yang clear biasa didapat dari guru yang kemampuan komunikasinya bagus. Isi
materi memang perlu, cara menyampaikan itu juga tidak kalah penting. Retorika disini
bermakna komunikasi, baik aktif (berbicara) mamupun pasif (menulis). Keduanya
bersifat memproduksi, menghasilkan sesuatu. Sifatnya saja yang berbeda. Kalau bicara
bersifat langsung dan mudah menguap. Kalau tulisan bersifat tak langsung dan
bisa bertahan lama. Tapi itu dulu. Sekarang teknologi sudah bisa menyamakan
sifat keduanya. Dengan you tube
pembicaraan seseorang bisa dinikmati siapa saja, oleh generasi kapan saja, baik
secara langsung (live) mamupun tak langsung.
Berbicara maupun menulis,
keduanya membutuhkan logika. Apa yang dibicarakan atau yang ditulis seseorang
menunjukkan sebegitu kadar
intelektualnya. Al Qur’an sendiri mengajarkan bagaimana berbicara dan bagaimana
al Qur’an di tulis. Betapa banyak ayat yang memuat dialog, seperti Musa dengan
Fir’aun, Ibrahim dengan bapak dan anaknya, dst. Jadi, (1) Al Qur’an menuntun
bagaimana berlogika dan beretorika yang baik, (2) Logika akan baik jika tidak bertentangan
dengan Al Qur’an, (3) Retorika membutuhkan Al Qur’an dan logika. Berikut ini bagan,
untuk mempermudah penjelasan di atas.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar