Kamis, 03 Desember 2020

Metode Perumpamaan dalam Mengajar

 Rosul menggunakan metode ini ketika ingin menjelaskan sesuatu yang abstrak yang sulit dipahami.  Pemisalan itu untuk (1) menjelaskan sesuatu yang abstrak (2) agar mengambil pelajaran dari perumpamaan yang disampaikan. Alloh SWT banyak menggunakan perumpamaan seperti ini.

Contoh 1. Perumpamaan dua golongan, kafir dan mukmin adalah seperti orang buta dan orang yang bisa bisa melihat. Dalam hal ini terkait dalam menerima hidayah.

Contoh 2. Perumpamaan orang yang kepadanya diturunkan kitab taurat yaitu orang Yahudi. Yakni tidak membawanya. Ini kan abstrak. Seperti keledai yang membawa banyak kitab, tapi keledai itu tidak pernah membaca, membaca, memahami bahkan melaksanakan isi taurat.

Contoh 3. Alloh menggambarkan pahala dari shodaqoh. Orang yang berinfak kecil akan berimbas pada hal yang besar. 1 biji di infakkan menumbuhkan 7 tangkai. Setiap tangkai ada 100 bulir. Artinya 1 dibalas 700. Bahkan ditambah lagi hak Alloh melipatkangadakan lebih pahala tersebut dari orang yang dikehendakinya.

Contoh 4. Hadist 1. Orang mukmin yang membaca al qur’an itu seperti buah utrujah. Bau wangi dan rasanya manis. Orang munafik itu, jika membaca al qur’an seperti reihana, buahnya pahit (kecut) dan tidak berbau. Orang munafik (ahli maksiat) yang membaca al qur’an seperti buah hamdholah, rasanya pahit (busuk) baunya juga tidak enak.

Perumpamaan berteman dengan orang sholeh seperti seorang penjual minyak wangi kasturi. Walau tidak punya minyak tersebut, pasti kita juga terbau wangi. Walau tidak dapat ilmunya, kita terdampak kebaikan, kewaro’annya dst. Sementara jika berteman dengan ahli maksiat seperti tukang pande besi. Kalau seandainya kita tidak terkena apinya, dipastikan kita terkena asapnya, terkena juga bau tidak enak dari besi yang dibakar tersebut.

Contoh 5. Hadist 2. Sungguh perumpamaan apa-apa yang diutus Alloh dari hidayah dan ilmu seperti air hujan lebat yang turun di tanah. Manusia seperti tanah, ilmu seperti air hujan. Ada 3 kelompok. Kelompok 1, diantara tanah ada yang bagus yang bisa menyerap air. Maka tanah itu bisa menumbuhkan tanaman dan rerumputan yang baik. Tanah itu bisa memfungsikan air hujn tersebut. Manusia jika bisa memanfaatkan ilmu dari Alloh dia juga bermanfaat bagi sekitar.

Kelompok 2, ada tanah yang tidak bisa menyerap air, tapi bisa menampung air. Dengan tampungan itu (bisanya tanah keras) tidak bisa menumbuhkan rerumputan, tapi manusia bisa memanfaatkan sebagai minum untuk ternak, atau untuk bercocok tanam. Manusia di gol ini, belajar tetapi tidak bisa memanfaatkan ilmunya untuk dirinya, tapi hanya disalurkan ke orang lain.

Kelompok 3, ada tanah yang tidak bisa menyerap air dan tidak bisa juga menampung air. bahkan kalau jika air di situ malah air itu jadi bau. Tidak bisa dimanfaatkan oleh makhluk lain, bahkan berpenyakit. Ini sejelek–jelek manusia.

Pelajaran yang bisa diambil adalah bagaimana kita bisa belajar ilmu dan memanfaatkan ilmu untuk kita dan orang lain. Keutamaan ilmu dan mengajarkan ke orang lain. Sebaik-baik manusia (guru yang baik). Celaan dan hinaan bagi siapapun yang menolak ilmu.

Contoh 6. Hadist 3. Hadist tentang safina (perahu). Rosul mengumpamakan orang yang taat dalam syariat Alloh, amar ma'ruf dan nahi mungkar. Andai melihat kemungkaran di sekitarnya, hatinya ingkar dan tergerak untuk melakukan kebaikan di masyarakat. Sebaliknya ada orang yang terjerembab dalam kemaksiatan. Seperti sekelompok orang di suatu perahu. Ketika diundi, sekelompok ada di atas sebagian di bawah. Ketika butuh air, yang baik adalah yang di atas, ambil air dari atas. Bagi orang bermaksiat, sebaiknya lubangi saja perahunya. Orang baik (di atas) mengajak orang yang dibawah untuk ke atas (menjadi baik) mengambil air dari atas. Semuanya menjadi selamat.

Ternyata tidak cukup menjadi sholeh saja, tetapi harus muslih, menjadi agen kebaikan bagi kaumnya. Alloh tidak akan menghukum jika di kaum itu ada orang yang muslih, orang yang melakukan kebaikan untuk keselamatan banyak orang. Ada kaum yang di situ ada ulama’ nya, tapi baik untuk dirinya sendiri, dia cuek terhadap kemaksiatan kemungkaran di sekitarnya. Maka Alloh menghancurkan kaum itu baik yang alim maupun yang maksiat.

Contoh 7. Hadist 4. Perumpamaan orang munafik seperti seekor domba yang ragu-ragu, gabung ke kelompok domba yang mana, yang kanan atau yang kiri. Dia bimbang tidak ada keyakinan. Orang munafik itu kadang berkumpul dengan orang mukmin kadang dengan orang kafir. Jika wafat dalam keadaan munafik, bahaya.

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar