Rosul menggunakan metode ini ketika ingin menjelaskan sesuatu yang abstrak yang sulit dipahami. Pemisalan itu untuk (1) menjelaskan sesuatu yang abstrak (2) agar mengambil pelajaran dari perumpamaan yang disampaikan. Alloh SWT banyak menggunakan perumpamaan seperti ini.
Contoh 1. Perumpamaan dua golongan, kafir dan
mukmin adalah seperti orang buta dan orang yang bisa bisa melihat. Dalam hal
ini terkait dalam menerima hidayah.
Contoh 2. Perumpamaan orang yang kepadanya diturunkan
kitab taurat yaitu orang Yahudi. Yakni tidak membawanya. Ini kan abstrak. Seperti
keledai yang membawa banyak kitab, tapi keledai itu tidak pernah membaca, membaca,
memahami bahkan melaksanakan isi taurat.
Contoh 3. Alloh menggambarkan pahala dari
shodaqoh. Orang yang berinfak kecil akan berimbas pada hal yang besar. 1 biji
di infakkan menumbuhkan 7 tangkai. Setiap tangkai ada 100 bulir. Artinya 1
dibalas 700. Bahkan ditambah lagi hak Alloh melipatkangadakan lebih pahala
tersebut dari orang yang dikehendakinya.
Contoh 4. Hadist 1. Orang mukmin yang membaca
al qur’an itu seperti buah utrujah. Bau wangi dan rasanya manis. Orang munafik
itu, jika membaca al qur’an seperti reihana, buahnya pahit (kecut) dan tidak
berbau. Orang munafik (ahli maksiat) yang membaca al qur’an seperti buah
hamdholah, rasanya pahit (busuk) baunya juga tidak enak.
Perumpamaan berteman dengan orang sholeh seperti
seorang penjual minyak wangi kasturi. Walau tidak punya minyak tersebut, pasti
kita juga terbau wangi. Walau tidak dapat ilmunya, kita terdampak kebaikan, kewaro’annya
dst. Sementara jika berteman dengan ahli maksiat seperti tukang pande besi. Kalau
seandainya kita tidak terkena apinya, dipastikan kita terkena asapnya, terkena
juga bau tidak enak dari besi yang dibakar tersebut.
Contoh 5. Hadist 2. Sungguh perumpamaan apa-apa yang diutus Alloh dari hidayah dan ilmu seperti air hujan lebat yang turun di
tanah. Manusia seperti tanah, ilmu seperti air hujan. Ada 3 kelompok. Kelompok 1,
diantara tanah ada yang bagus yang bisa menyerap air. Maka tanah itu bisa
menumbuhkan tanaman dan rerumputan yang baik. Tanah itu bisa memfungsikan air
hujn tersebut. Manusia jika bisa memanfaatkan ilmu dari Alloh dia juga bermanfaat bagi sekitar.
Kelompok 2, ada tanah yang tidak bisa menyerap
air, tapi bisa menampung air. Dengan tampungan itu (bisanya tanah keras) tidak
bisa menumbuhkan rerumputan, tapi manusia bisa memanfaatkan sebagai minum untuk ternak, atau untuk bercocok tanam. Manusia di gol ini, belajar tetapi
tidak bisa memanfaatkan ilmunya untuk dirinya, tapi hanya disalurkan ke orang
lain.
Kelompok 3, ada tanah yang tidak bisa menyerap
air dan tidak bisa juga menampung air. bahkan kalau jika air di situ malah air
itu jadi bau. Tidak bisa dimanfaatkan oleh makhluk lain, bahkan berpenyakit. Ini
sejelek–jelek manusia.
Pelajaran yang bisa diambil adalah bagaimana kita
bisa belajar ilmu dan memanfaatkan ilmu untuk kita dan orang lain. Keutamaan ilmu
dan mengajarkan ke orang lain. Sebaik-baik manusia (guru yang baik). Celaan dan
hinaan bagi siapapun yang menolak ilmu.
Contoh 6. Hadist 3. Hadist tentang safina
(perahu). Rosul mengumpamakan orang yang taat dalam syariat Alloh, amar ma'ruf dan
nahi mungkar. Andai melihat kemungkaran di sekitarnya, hatinya ingkar dan
tergerak untuk melakukan kebaikan di masyarakat. Sebaliknya ada orang yang
terjerembab dalam kemaksiatan. Seperti sekelompok orang di suatu perahu. Ketika diundi,
sekelompok ada di atas sebagian di bawah. Ketika butuh air, yang baik adalah
yang di atas, ambil air dari atas. Bagi orang bermaksiat, sebaiknya lubangi
saja perahunya. Orang baik (di atas) mengajak orang yang dibawah untuk ke atas
(menjadi baik) mengambil air dari atas. Semuanya menjadi selamat.
Ternyata tidak cukup menjadi sholeh saja,
tetapi harus muslih, menjadi agen kebaikan bagi kaumnya. Alloh tidak akan
menghukum jika di kaum itu ada orang yang muslih, orang yang melakukan kebaikan
untuk keselamatan banyak orang. Ada kaum yang di situ ada ulama’ nya, tapi baik
untuk dirinya sendiri, dia cuek terhadap kemaksiatan kemungkaran di sekitarnya.
Maka Alloh menghancurkan kaum itu baik yang alim maupun yang maksiat.
Contoh 7. Hadist 4. Perumpamaan orang munafik
seperti seekor domba yang ragu-ragu, gabung ke kelompok domba yang mana, yang kanan
atau yang kiri. Dia bimbang tidak ada keyakinan. Orang munafik itu kadang berkumpul
dengan orang mukmin kadang dengan orang kafir. Jika wafat dalam keadaan
munafik, bahaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar