Kamis, 17 Desember 2020

Asesmen, buat apa?

Di negeri ini, yang namanya ujian, tes, atau semacamnya banyak sekali. Sekarang kita ambil contoh, siswa kelas 9 SMP. Siswa ini pasti mengalami ulangan harian (UH), minimal sebanyak topik di kelas 9 tersebut. kalau dalam 1 tahun ada 10 topik, maka dia akan mengikuti UH sebanyak 10 kali. Apabila nilai kurang dari KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal), maka dia ikut remidi, yang bentuknya ulangan juga (re-test), walau sebelumnya ada remidial teaching. 

di tengah semester ada UTS dan di akhir semester ada UAS atau sekarang lebih dikenal dengan istilah PAS (Penilaian Akhir Semester). Setelah itu ada lagi yang namanya try out yang tentunya lebih dari satu kali, untuk persiapan ujian akhir sekolah. Kalau dulu, semasa ada UN (Ujian Nasional), try out lebih sering diadakan. Terakhir ditutup dengan US (Ujian Sekolah). Dengan demikian hidup sebagai pelajar banyak berpindah dari tes yang satu ke tes yang lain. Tapi uniknya, peringkat kualitas pendidikan belum juga beranjak naik. 

Andai tes itu di perbanyak, sepertinya tidak ada jaminan bahwa kualitas hasil belajar semakin baik. tentu ini harus ada yang ditinjau ulang terkait dengan asesmen. Ada 3 jenis asesmen, yaitu:

        AOL    : asssesment of learning

        AFL    : assesment for learning

        AAL    : assesment as learning

yang banyak terjadi adalah AOL, yakni mengukur sejauh mana daya serap peserta didik terhadap materi yang telah diajarkan oleh guru. jarang sekali kita menerapkan AFL, yakni asesmen digunakn untuk peningkatan kualitas pembelajaran. Terebih lagi AAL. yakni asesmen sebagai pembelajaran. AFL dan AAL banyak melibatkan refleksi guru selama proses mengajarnya. umumnya, guru memvonis peserta didik yang kurang cakap (baca : tidak pintar), bukan merefleksi cara mengajarnya. 

tes reguler yang hanya mengulang materi atau mengukur daya ingat atau mengular prosedur yang sama, tidak akan membuat siswa kritis berpikir. alternatifnya, adalah soal HOTS yang lebih menantang. tentu ini ada konsekuensinya, membutuhkan waktu yang lebih. namun hasilnya membuat nalar peserta didik semakin tajam. 

Elemen penting pada asesmen HOTS adalah stimulus yang diberikan. (1) gambar, grafik, tabel, atau wacana harus bisa menstimulus siswa untuk terhenyak dan keudian berpikir keras. (2) kasus-kasus yang diangkat sebaiknya kontekstual dan menarik (up to date), berikutnya (3) isu-isu global yang ditampikan, agar wawasan peserta didik semakin luas dan mendunia, serta (4) pembobotan penskoran sangat penting. tidak boleh semua soal diberi bobot yang sama, karena umumnya tingkat kesulitan soal itu berjenjang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar