Teori yang kita yakini benar,
bisa jadi sebentar lagi berubah. Rumus yang sepertinya mutlak sahih, ada
kemungkinan tidak berlaku. Pendapat orang bisa berbeda. Setiap pendapat bisa
dibantah dengan kalimat, Benar menurut siapa?. Sudut pandang pemikiran menyebabkan
benar menjadi sesuatu yang relatif. Oleh karenanya kebanyakan kebenaran itu
nisbi. Namun demikian ada kebenaran yang bersifat final, yang biasa dinamakan
HIKMAH. Berikut ini adalah nasihat hikmah yang disampaikan oleh salah satu
manusia mulia, yang namanya diabadikan dalam kitab mulia, Al Qur’anul karim,
yaitu Luqman al Hakim.
Pertama, berbuatlah untuk mencari bekal dunia sesuai umurmu. Harta yang kita
tumpuk dan kejar mati-matian, akan kita
tinggalkan saat kita mati. Begitu juga orang yang kita cintai; istri, anak, saudara
dan kolega. Gelar akademik akan berubah menjadi alm (almarhum) untuk selanjutnya dilupakan. Uang, perhisaan, rumah, tanah, mobil, hanya bisa dimanfaatkan
paling lama seusia umur kita, tidak lebih.
Kedua, berbuatlah untuk mencari bekal akhiratmu yang cukup untuk hidup
selama-lamanya. Banyak dari kita ingin hidup selamanya di Syurga, namun
bekal untuk ke sana sangat minimalis. Repotnya urusan duniawi melenakan urusan
yang satu ini. Kadang ingat (taubat) ketika di injury time (usia senja), padahal
kita tidak tahu kapan jatah umur ini berakhir.
Ketiga, berbuatlah untuk Alloh setara dengan kebutuhanmu yang kamu peroleh dari
NYA. Ingat pada Alloh tidaklah mudah. Sulit dan butuh konsentrasi tinggi.
Bisa jadi kita sering istighfar atau melantunkan kalimat toyyibah, namun ketika
berdialog langsung (sholat) pikiran kita kemana-mana. Artinya sangatlah tidak
sebanding dzikir kita dengan banyak kebutuhan kita yang dipenuhi oleh Alloh,
seperti nafas, rezeki, siklus tidur, sistem pencernaan yang stabil, nikmat
melihat dan mendengar, kemudahan berjalan dan berpikir.
Keempat, berbuatlah maksiat setara dengan seberapa kuat kamu menanggung siksa.
Maksiat itu singkat, nikmat di dunia sengsara di akhirat. Ini mudah diucapkan
tapi sulit dilaksanakan. Alloh maha berat siksanya, sering kita dengar, namun
sering pula kita mengingkarinya. Memang begitulah tabiat syaiton, tidak rela
dia sendirian ke neraka. Mereka akan menyeret kita ke neraka dengan iming-iming
maksiat yang sekejap.
Kelima, janganlah meminta kecuali pada yang tidak butuh apapun. Syirik modern
lebih banyak ragamnya. Kalau dulu mungkin patung dan sesajen yang dianggap syirik.
Namun kini lebih canggih halus dan mungkin tidak kasat mata. Problema hidup
membuat kita meminta pertolongan kepada seseorang yang dia sendiri masih butuh
pertolongan. Itu bisa berbentuk psikolog, atasan, idola, aktivitas sesemahan
dengan alasan kearifan lokal, dan lain-lain. Kita lupa kita punya Alloh, tempat
bergantung atas segala sesuatu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar