Jumat, 10 Januari 2020

Kebenaran Final

Image result for al haq
Teori yang kita yakini benar, bisa jadi sebentar lagi berubah. Rumus yang sepertinya mutlak sahih, ada kemungkinan tidak berlaku. Pendapat orang bisa berbeda. Setiap pendapat bisa dibantah dengan kalimat, Benar menurut siapa?. Sudut pandang pemikiran menyebabkan benar menjadi sesuatu yang relatif. Oleh karenanya kebanyakan kebenaran itu nisbi. Namun demikian ada kebenaran yang bersifat final, yang biasa dinamakan HIKMAH. Berikut ini adalah nasihat hikmah yang disampaikan oleh salah satu manusia mulia, yang namanya diabadikan dalam kitab mulia, Al Qur’anul karim, yaitu Luqman al Hakim.

Pertama, berbuatlah untuk mencari bekal dunia sesuai umurmu. Harta yang kita tumpuk dan  kejar mati-matian, akan kita tinggalkan saat kita mati. Begitu juga orang yang kita cintai; istri, anak, saudara dan kolega. Gelar akademik akan berubah menjadi alm (almarhum) untuk selanjutnya dilupakan. Uang, perhisaan, rumah, tanah, mobil, hanya bisa dimanfaatkan paling lama seusia umur kita, tidak lebih.

Kedua, berbuatlah untuk mencari bekal akhiratmu yang cukup untuk hidup selama-lamanya. Banyak dari kita ingin hidup selamanya di Syurga, namun bekal untuk ke sana sangat minimalis. Repotnya urusan duniawi melenakan urusan yang satu ini. Kadang ingat (taubat) ketika di injury time (usia senja), padahal kita tidak tahu kapan jatah umur ini berakhir.

Ketiga, berbuatlah untuk Alloh setara dengan kebutuhanmu yang kamu peroleh dari NYA. Ingat pada Alloh tidaklah mudah. Sulit dan butuh konsentrasi tinggi. Bisa jadi kita sering istighfar atau melantunkan kalimat toyyibah, namun ketika berdialog langsung (sholat) pikiran kita kemana-mana. Artinya sangatlah tidak sebanding dzikir kita dengan banyak kebutuhan kita yang dipenuhi oleh Alloh, seperti nafas, rezeki, siklus tidur, sistem pencernaan yang stabil, nikmat melihat dan mendengar, kemudahan berjalan dan berpikir.

Keempat, berbuatlah maksiat setara dengan seberapa kuat kamu menanggung siksa. Maksiat itu singkat, nikmat di dunia sengsara di akhirat. Ini mudah diucapkan tapi sulit dilaksanakan. Alloh maha berat siksanya, sering kita dengar, namun sering pula kita mengingkarinya. Memang begitulah tabiat syaiton, tidak rela dia sendirian ke neraka. Mereka akan menyeret kita ke neraka dengan iming-iming maksiat yang sekejap.

Kelima, janganlah meminta kecuali pada yang tidak butuh apapun. Syirik modern lebih banyak ragamnya. Kalau dulu mungkin patung dan sesajen yang dianggap syirik. Namun kini lebih canggih halus dan mungkin tidak kasat mata. Problema hidup membuat kita meminta pertolongan kepada seseorang yang dia sendiri masih butuh pertolongan. Itu bisa berbentuk psikolog, atasan, idola, aktivitas sesemahan dengan alasan kearifan lokal, dan lain-lain. Kita lupa kita punya Alloh, tempat bergantung atas segala sesuatu.

Keenam, berbuatlah maksiat yang Alloh tidak tahu. Rasanya ini mustahil. Tidak mungkin, karena Alloh maha tahu, baik tersirat maupun tersurat. Masih terbersit dalam hati saja, Alloh sudah mencatatnya. Mestinya tidak ada waktu dan tempat untuk bermaksiat pada NYA. Namun faktanya godaan setan itu menghanyutkan. Oleh karenanya kita disuruh sering ber-taawud, Aku berlindung dari godaan setan yang terkutuk. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar