Selasa, 14 Januari 2020

Hakikat Manusia


Tidak ada makhluk lain selain manusia yang mendapatkan perhatian seperti yang didapat manusia. Telah banyak diturunkan kitab-kitab dari langit dan telah banyak diutus nabi-nabi untuk kebaikan manusia. Dengan baiknya manusia diharapkan baik pula makhluk selain manusia.

Salah satu keistimewaan manusia adalah karena ia dimuliakan dengan akal. Manusia diciptakan bisa berbicara dan dengan akalnya (berpikir) bisa berbuat banyak hal. Umumnya hanya untuk kesenangan dirinya. Hasil berpikir adalah ilmu-ilmu kemanusiaan dan ilmu-ilmu lain yang umumnya untuk melayani kesenangan manusia. Hal ini baik, sah-sah saja, tidak ada salahnya, asalkan manusia menunaikan syukur pada dzat yang memberi akal. Dengan akalnya harusnya manusia memahami perannya (makhluq yang taat pada sang Kholiq).

Mengapa manusia dibentuk seperti itu? Mengapa jagad raya dibuat untuk tunduk pada manusia? Jawabnya agar manusia bisa melaksanakan tugasnya. Semuanya berjalan dengan baik agar manusia dapat menjalankan tugasnya dengan baik pula. Tugas utamanya adalah bersyukur pada yang memberi kenikmatan. Pada kenyataannya berbeda. Tugas sebagai manusia dijalankan setengah-setengah, sehingga alam juga mengabdi pada manusia setengah-setengah. Seharusnya manusia mengabdi pada Alloh dan alam tunduk (mengabdi) pada manusia. Kesulitan hidup manusia sudah diringankan Alloh, dengan cara ditundukkannya alam untuk manusia.

Dengan kemuliaan akalnya, manusia akan dimintai pertanggungjawaban. Manusia menyangka ini hanya pemberian saja tanpa perlu pertanggungjawaban. Oleh karenanya tidak heran maksiat masih merajalela. Itulah yang menyebabkan teguran. Ingat; kita dicipta dari tak ada menjadi ada. Terjaga dalam rahim ibu hingga akhirnya bisa menikmati fasiltas hidup di alam ini.

Yang menarik adalah adanya paradoks masa kini. Ilmu meningkat dengan pesat tetapi alam semakin rusak. Mestinya dengan ilmu yang tinggi, alam terjaga dan termanfaatkan untuk kemaslahatan manusia. Faktanya , sumber daya alam dikuras untuk membuat senjata pemusnah masal. Hanya sekitar 15% saja SDA yang digunakan untuk kebaikan manusia. Satu buah rudal jelajah antar benua jika dikonversi bisa untuk pembangunan satu propinsi . Andai 50% saja sumber daya alam ini digunakan dengan baik, maka tidak ada kekeringan dan kelaparan.

Manusia mempunyai sarana yang bisa menjamin kehidupan bahagia dalam ukuran kehidupan materialistis. Karena manusia membalikkan urusan (kebenaran), maka yang seharusnya menyelesaikan masalah malah menciptakan masalah. Maka manusia hakikatnya tertipu oleh kemanusiaannya itu sendiri. Manusia melampaui batas, hingga tidak sadar telah mengubah hawa nafsu menjadi panglima hidupnya.

Banyak manusia merasa benar, padahal sesungguhnya ia ragu-ragau. Keraguan itulah yang membuat nya gelisah, galau. Seakan hidup tidak ada tujuan. Sungguh beruntung seseorang yang ditunjukkan pada sesuatu yang telah hilang (hikmah). Artinya ia mendapatkan petunjuk. Nikmat seperti ini dapat mengubah kesengsaraan menjadi kebahagiaan. Keringat menjadi obat. Sebaliknya orang yang tidak mendapatkan petunjuk (hidayah), mata hatinya ada penutup. Hatinya selalu ragu dan tetap pada kebingungan. Ia menghadapi kehidupan dengan penuh kemelut. Ini menimpa orang yang berpaling dari kebenaran. Akankah kita termasuk golongan yang terakhir ini? Semoga tidak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar