Tidak ada makhluk lain selain
manusia yang mendapatkan perhatian seperti yang didapat manusia. Telah banyak
diturunkan kitab-kitab dari langit dan telah banyak diutus nabi-nabi untuk
kebaikan manusia. Dengan baiknya manusia diharapkan baik pula makhluk selain
manusia.
Salah satu keistimewaan manusia
adalah karena ia dimuliakan dengan akal. Manusia diciptakan bisa berbicara dan
dengan akalnya (berpikir) bisa berbuat banyak hal. Umumnya hanya untuk
kesenangan dirinya. Hasil berpikir adalah ilmu-ilmu kemanusiaan dan ilmu-ilmu
lain yang umumnya untuk melayani kesenangan manusia. Hal ini baik, sah-sah
saja, tidak ada salahnya, asalkan manusia menunaikan syukur pada dzat yang
memberi akal. Dengan akalnya harusnya manusia memahami perannya (makhluq yang
taat pada sang Kholiq).
Mengapa manusia dibentuk seperti
itu? Mengapa jagad raya dibuat untuk tunduk pada manusia? Jawabnya agar manusia
bisa melaksanakan tugasnya. Semuanya berjalan dengan baik agar manusia dapat
menjalankan tugasnya dengan baik pula. Tugas utamanya adalah bersyukur pada
yang memberi kenikmatan. Pada kenyataannya berbeda. Tugas sebagai manusia
dijalankan setengah-setengah, sehingga alam juga mengabdi pada manusia
setengah-setengah. Seharusnya manusia mengabdi pada Alloh dan alam tunduk
(mengabdi) pada manusia. Kesulitan hidup manusia sudah diringankan Alloh,
dengan cara ditundukkannya alam untuk manusia.
Dengan kemuliaan akalnya, manusia
akan dimintai pertanggungjawaban. Manusia menyangka ini hanya pemberian saja tanpa
perlu pertanggungjawaban. Oleh karenanya tidak heran maksiat masih merajalela.
Itulah yang menyebabkan teguran. Ingat; kita dicipta dari tak ada menjadi ada. Terjaga
dalam rahim ibu hingga akhirnya bisa menikmati fasiltas hidup di alam ini.
Yang menarik adalah adanya
paradoks masa kini. Ilmu meningkat dengan pesat tetapi alam semakin rusak.
Mestinya dengan ilmu yang tinggi, alam terjaga dan termanfaatkan untuk
kemaslahatan manusia. Faktanya , sumber daya alam dikuras untuk membuat senjata
pemusnah masal. Hanya sekitar 15% saja SDA yang digunakan untuk kebaikan
manusia. Satu buah rudal jelajah antar benua jika dikonversi bisa untuk pembangunan
satu propinsi . Andai 50% saja sumber daya alam ini digunakan dengan baik, maka
tidak ada kekeringan dan kelaparan.
Manusia mempunyai sarana yang
bisa menjamin kehidupan bahagia dalam ukuran kehidupan materialistis. Karena
manusia membalikkan urusan (kebenaran), maka yang seharusnya menyelesaikan
masalah malah menciptakan masalah. Maka manusia hakikatnya tertipu oleh
kemanusiaannya itu sendiri. Manusia melampaui batas, hingga tidak sadar telah
mengubah hawa nafsu menjadi panglima hidupnya.
Banyak manusia merasa benar,
padahal sesungguhnya ia ragu-ragau. Keraguan itulah yang membuat nya gelisah,
galau. Seakan hidup tidak ada tujuan. Sungguh beruntung seseorang yang
ditunjukkan pada sesuatu yang telah hilang (hikmah). Artinya ia mendapatkan
petunjuk. Nikmat seperti ini dapat mengubah kesengsaraan menjadi kebahagiaan.
Keringat menjadi obat. Sebaliknya orang yang tidak mendapatkan petunjuk
(hidayah), mata hatinya ada penutup. Hatinya selalu ragu dan tetap pada
kebingungan. Ia menghadapi kehidupan dengan penuh kemelut. Ini menimpa orang
yang berpaling dari kebenaran. Akankah kita termasuk golongan yang terakhir
ini? Semoga tidak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar