Senin, 02 Mei 2016

Sedekah Keringat


Dimana tempat yang paling indah? Tempat rekreasi. Dimana tempat paling nyaman? Hotel, penginapan, dan resort. Jawaban tersebut bukanlah hasil survey famili 100. Namun hanya dugaan. Walau belum pernah digelar angket massal, namun kira-kira jawaban di atas tidak sepenuhnya salah. Kemungkinan besar sangat sedikit atau bahkan tidak ada yang menjawab sekolah. Sebab, umumnya sekolah identik dengan tempat yang formal. Kalaupun ada green school, sekolah adi wiyata, dan sejenisnya bukan berarti semua penghuninya merasa nyaman dan kerasan. Apalagi sekolah yang tidak termasuk kategori tersebut.

Hijau, indah, bersih, dan rapi pasti enak dilihat. Oleh siapapun, baik orang tua, anak muda, anak kecil, laki-laki maupun perempuan. Termasuk hijaunya sekolah. Sekolah asri sejuk bukan monopoli sekolah di desa. Sekolah dengan luas lahan terbatas pun masih sangat memungkinkan untuk dihijaukan. Bagaimanapun bagusnya gedung sekolah, jika tidak ditunjang dengan taman-taman yang indah, jatuhnya juga terkesan kering, gersang, dan membosankan. Bangunan fisik boleh sederhana, tetapi aksesoris di sekitarnya harus hijau. Warna hijau itu unik. Bisa membikin pikiran tenang dan suasana nyaman juga fresh.


Andai setiap warga sekolah bersedia bersedekah keringat secara rutin, tentu sekolah akan menjadi tempat idaman. Tidak harus lama. Sebentar tetapi rutin. Bukan hanya kegiatan seremonial tetapi benar-benar menjadi kewajiban. Tidak boleh isedentil tetapi harus terencana dan terukur. Terencana artinya sekolah mempunyai master plan yang jelas seperti apa wujud fisik lingkungan sekolah. Terukur artinya bisa dilihat siapapun perubahan keindahan sekolah dari waktu ke waktu. Sesuai dengan time line yang sudah digariskan stake holder.

Terkadang jalan trotoar sekolah tampak menyempit hanya gara-gara banyak rerumputan di kanan kiri jalan. Sampah berserakan dimana mana. Walaupun tempat sampah ada dimana-mana. Seandainya setiap warga sekolah bersedekah keringat dengan luasan 2 meter persegi. Misalkan ada 500 warga sekolah, maka ada 1000 meter persegi yang dihijaukan dan dibersihkan. Dan itu sudah sangat cukup untuk mengasrikan lingkungan sekolah. 2 meter persegi bukanlah area yang luas. Cuma seluas tempat tidur kita masing-masing. Namun jika menjadi gerakan massal yang massif tentu tidak akan kita jumpai lagi sekolah yang kumuh.

Mungkin sudah selayaknya budaya gotong royong di populerkan lagi melalui sekolah. Selain sehat, tentu perpahala. Beribadah kan tidak harus melulu di masjid atau tempat peribadatan lain. menambah pundi-pundi amal bisa melalui jalur sekolah bukan? Guru berperan sebagai pelopor. Artinya guru tidak hanya memberi perintah, tetapi guru memberi contoh. Teladan guru otomatis akan mempercepat perubahan lingkungan sekolah. Ini berarti setiap ada kerja bakti sekolah, sang guru menjadi pioneer. Paling depan dalam urusan hijaunya sekolah.

Tidaklah bisa hijaunya sekolah hanya dibebankan pada cleaning sevice. Tidak serta merta, asrinya sekolah menjagi tugas pesuruh. Kepala sekolah sebagai leader bertanggung jawab terhadap kenyamanan lingkungan sekolah. Namun jika gersangnya sekolah dibebankan sepenuhnya pada kepala sekolah tentu tidak adil juga. Semua punya peran. Manajer sekolah ini harus di sokong penuh semua warga sekolah. Dan lagi-lagi harus berupa aksi bukan orasi.


Kelak kita boleh memimpikan sekolah yang dirindukan murid-muridnya. Asrinya sekolah menjadi magnet terbesar murid untuk mendatanginya. Bahkan alumnipun selalu merindukan saat-saat indah menimba ilmu di tempat paling nyaman di dunia. Sehingga ketika ada survey berikutnya. Dimana tempat paling nyaman? Sekolah kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar