Kapan ini berlaku? Ketika rosul melihat kebutuhan penanya, lebih dari yang ditanyakan. Ini berarti mampu melihat kebutuhan orang yang bertanya.
Contoh 1. Hadis imam Malik, dari Abu Dawud. Bahwa
ada seorang laki- menemui nabi. Wahai Rosul, kami sedang berburu ikan di laut. Sedang
kami hanya bawa air tawar sedikit. Andai dipakai wudhu pasti kami kehausan. Apakah
boleh kami berwudhu dengan air laut? Di jawab, itu air laut itu suci mensucikan
dan halal bangkai yang hidup di laut tersebut.
Pelajaran dari hadist di atas adalah (1) air
laut itu sama sekali tidak najis, walaupun di situ ada bangkai hewan dst, (2)
binatang laut itu halal di makan. Rosul melihat bahwa ikan bisa disimpan dan
dimakan untuk masa berikutnya. Sebagai guru, penting melihat kebutuhan peserta
didik. Kalau sekiranya ada kebutuhan peserta didik, sampaikan saja walaupun
mereka tidak bertanya. (3) memang semua binatang air itu halal, tetapi ada
beberapa yang diperselisihkan, seperti buaya. Mayoritas diharamkan, karena bukan
binatang air karena sering berpindah dari air dan darat. Tidak selamanya yang
halal itu bia dimakan, contoh bagi yang hipertensi, makan kepiting malah
menjadi sakit. Contoh lain, kadal gurun itu halal, tetapi rosul tidak makan. Karena
ini bukan makanan yang biasa dimakan oleh kaumnya. Artinya, meski banyak yang
halal tidak semua bisa di makan. (4) ini hanya 4 kata, tetapi menyimpan makna
yang luas dan dalam. Ungkapan sedikit tapi penjelasannya sangat banyak.
Contoh 2, hadist dari imam muslim, bahwa rosul
bertemu dengan kafilah kemudian beliau bertanya, siapa kelompok ini?. Mereka menjawab,
kami muslim. Kemudian salah satu dari mereka bertanya, Siapa anda? Rosululloh. Tiba-tiba
ada seorang ibu mengangkat anak kecil dan bertanya, apakah anak kecil itu boleh
haji? Jawab rosul iya, bagimu juga pahala. Ada pahala tambahan buat si ibu yang
menggendong anak ketika haji. Seperti saat sang ibu mengajarkan al fatihah pada
anaknya. Jika anaknya mengamalkan ini sepanjang hidupnya, maka sang ibu terus
mendapatkan pahala.
Harta yang paling utama adalah harta yang kita
sedekahkan untuk keluarga dekat kita. Rosul bersabda, dinar yang paling baik
adalah yang digunakan untuk keluarganya, kemudian, uang yang diinfakkan untuk
hewan-hewan untuk jihad fisabilillah, kemudian yang untuk teman yang berjuang fisabilillah. Jadi dimulai dari keluarga. Laki-laki
mana yang mempunyai pahala besar?, yaitu laki-laki yang menginfakan untuk anak-anak
nya yang kecil, yg dengan uang itu untuk hidup. Bagi kita pahala, apa-apa yang kita
sedekahkan untuk kaum kita.
Pelajaran berikutnya, bahwa seseorang itu harus
banya bertanya pada orang yang lebih pintar. Apa tidak cukup hanya dengan baca
buku? Tetapi kita butuh pemahaman. Tanyalah ke pakar atau ulama. Jangan sampai
salah paham. Contoh ada seseorang baca buku, kalau jum’atan disunnahkan membawa
pisau dan tikus. Padahal harusnya kalau jum'atan harus tenang dan menyimak. Ini gagal
paham. Gara-gara salah membaca. Contoh lain, ketika khotbah rosul berkata, tidak
akan masuk syurga; ottah (penjual makanan hewan). Ini pekerjaan saya, kata salah
satu pendengar. Padahal ini maksudnya adalah orang yang senang mengadu domba.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar