Rosul sebagai guru pendidik. Hari ini kita akan mengkaji hadist yang menjelaskan kepribadian rosul di aspek pendidikan.
Hadist diriwayatkan imam at tirmidzi. Rosul ketika
menghadapi para anak didiknya di majelis ilmu. Digambarkan, rosul senantiasa
bersikap adil dan memberikan waktu pada setiap yang hadir. Semua peserta merasa
paling dekat dengan rosul, merasa paling mulia dibanding temannya. Ketika senyum
dan melihat ke seluruh peserta didik.
Sebagai contoh, amr bin ash, sering dipilih
rosul sebagai panglima perang. Merasa paling dekat dengan rosul. Wahai rosul,
siapa paling dekat dari golongan laki-laki? Abu bakar, terus umar dst. Tapi tidak
sempat menyebutnya, meskipun sering jadi panglima perang. Ini artinya harus
adil pada siapapun, kalau ada yang paling, jangan ditampakkan.
Ketika di majelis ilmu memberi kesempatan kepada
peserta didik. Sabar menghadapi peserta didik. Jika ada sanggahan, tidak menghentikan.
Jika ada perselisihan tidak menghentikan sampai mereka sendiri ijin keluar.
Setiap ada yang bertanya tentang urusan akhirat
atau dunia, jawaban yang diberikan adalah jawaban yang terbaik. Bisa nasihat
atau dzikir. Rosul senantiasa memposisikan seperti bapak pada anaknya. Semua merasa
disayangi. Majelis ilmu nya mulia, sangat dihormati. Tidak terdengar suara
dengan tensi tinggi.
Hadist berikutnya, diriwayatkan oleh Imam
Bukhori, Imam muslim. Ada seseorang ketika bertemu nabi saat khutbah di atas mimbar.
Ketika di tengah-tengah khutbah, Ya Rosul, ada seorang laki-laki datang
bertanya tentang agamanya. Rosul menerima dengan baik. Berhenti dari khutbah,
mengambil kursi. Beliau duduk di atas kursi itu kemudian menjawab pertanyaan
orang arab badui itu sehingga semua orang yang hadir mendengarkan jawaban itu.
setelah selesai beliau ke mimbar dan melanjutkan khutbahnya. Hanya untuk menjawab
pertanyaan seorang, beliau menghentikan khutbah nya
Pelajaran yang bisa diambil, (1) tawadhu nya rosul. (2) rosul
memebri kesempatan pada penanya, meski di tenagh-tengah khutbah (3) rosul
segera untuk memberikan jawaban, terutama hal-hal penting, seperti iman dan (4)
memberi kesempatan untuk dekat dengan si penanya dan agar tanya jawab ini
didengarkan sahabat yang lain.
Hadist berikutnya, diriwayatkan imam muslim dari
sahabat abu ayyub. Ada seorang badui bersikap kurang beradab. Tiba-tiba mendekati
rosul, saat beliau naik onta, memegang tali di hidung onta. Dia berkata wahai
rosul apa yang bisa mendekatkan saya ke surga dan menjauhkan dari neraka. Rosul berkata,apa yang kamu katakan tadi? (takjub
dengan perkataan orang badui ini). Dia mengulangi jawaban. Rosul menjawab
dengan santun, kamu beribadah hanya pada Alloh tegakkan sholat tunaikan zakat
sambung tali silaturrahim.
Rosul memerintahkan, tinggalkan tali onta (yang
dipegang tadi). Artinya rosul tawadhu sekali, walau dengan orang yang tidak
sopan, beliau memberi kesempatan dan menjawab dengan baik, tidak menghardik. Ini
artinya rosul sayang sama siapapun.
Hadist selanjutnya, dari anas bin malik. Ada seorang
perempuan yang stress (gila). Tiba –tiba dia bertanya. Wahai rosul, saya punya
urusan. Apakah saya bisa bertanya kepada anda? Beliau tidak menolak dan
menerima dengan santun. Wahai ibu fulan, lihat sekeliling, apa yang kamu
butuhkan sampai saya bisa menutaskan hajatmu. Beliau mendudukan orang tersebut
di tempat yang semua orang bisa melihat, tapi tidak bisa mendengar perkataan
perempuan itu. untuk menjaga rasa malu atau perasaan perempuan itu. Ini artinya
rosul menerima orang, apapun orang itu.
Pelajaran dari hadist ini, bagaimana bersikap
adil, menerima apapun keadaan peserta didik. Jika bertanya, dijawab dengan
tulus, tidak marah, harus sabar, tawadhu ketika membimbing. Beri penjelasan yang
clear dan tidak membingungkan, sehingga peserta didik merasa dekat dengan kita.
Hal penting lainnya, harus tawadhu, tidak
sombong, tinggi hati. Tawadhu nya rosul, suatu waktu datang seorang laki-laki
dalam keadaan takut sekali, gemeteran. Rosul berkata, tenang, tenang karena
saya bukan seorang raja, saya hanya anak dari perempuan yang biasa makan
daging biasa (orang jelata).
Berikutnya menunjukkan betapa tawadhunya. Ketika
umar memasuki kamar rosul. Beliau sedang berbaring di atas tikar. Umar duduk di
sampingnya. Kemudian Rodul duduk di samping umar. Umar melihat bekas tikar di
pipinya. Dia merasa tidak layak kamar ini dihuni orang mulia. Hanya ada gandum,
yang bisa dimakan hewan. Umar hanya melihat kulit, tempat makanan, dan tikar. Umar
meneteskan air mata. Melihat itu, rosul berkata, wahai umar mengapa anda
menangis? Wahai nabi, bagaimana saya tidak menangis kalau aya lihat ini, tikar membuat bekas d tubuh, rumah juga tidak layak. Sementara di Persia Romawi,
tinggal di tempat yang banyak buah dan ranjang emas. Apa jawab rsul? Dijawab, wahai
ibn khottob, apa kamu tidak ridho jika bagian kita adalah akhirat, sedang
bagian mereka adalah dunia. Itulah sifat tawadhu rosul. Sifat asli, bukan sifat
kepura-puraan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar