Suatu hari saya bertanya ke siswa
kelas 9B. “Berapa banyak bilangan di dunia ini?”. Sebagian besar siswa menjawab
tak berhingga. “Kalau kita menghitung, satu dua tiga empat dan seterusnya,
bilangan apa yang ada di ujung?” Kembali mereka menjawab tak terhingga. Namun,
ketika saya tanya lagi, “berapa tak berhingga itu?” Mereka mulai ragu-ragu.
Bimo menjawab, “yaa banyak sekali ustad”. “Kalau menurutmu Rif?”, yaa besar sekali, jawab Rifqi sambil garuk
kepala. “Seberapa besar?” “Yaa pokoknya besar sekali”, jawabnya sambil
menghentikan garukan di kepalanya. Saya
menduga kebanyakan siswa saya masih sulit mendefinisikan bilangan tak berhingga
itu.
