Mari kita pikirkan dua hal
berikut ini. Pertama, ada muridnya tapi tidak ada gurunya. Bisa dibanyangkan
kan? Tentu kondisi kelas berantakan. Proses transfer ilmu tidak akan berjalan.
Murid tidak belajar apa-apa. Benar, tanpa guru pun, murid masih bisa belajar.
Tetapi tanpa ada pemandu, proses menemukan ilmu (kebenaran) akan menjadi liar.
Kedua, ada guru tapi tidak ada muridnya. Ini lebih lucu lagi. Siapa yang
diajar. Masak mengajar dirinya sendiri?
Kedua hal tersebut sama-sama
tidak mengenakkan. Kira-kira yang akan terjadi
untuk 10 atau 15 tahun lagi (jika kebijakan tidak berubah) adalah yang
kedua. Lho, kok bisa? Coba kita perhatikan data berikut ini.
