Sekarang kita fokus pada adab guru terhadap
murid. Bagian ini lebih panjang dan lebih luas. Bagaimana guru berbicara pada murid,
bagaimana metode mengajar dan sebagainya. Berikut ini adab-adabnya:
1. Ketika memasuki kelas, ucapkan salam,
mendoakan. Hadist: Maukah kalian saya tunjukkan sesuatu yang seandainya kalian
melakukan maka kalian saling menyayangi. Tebarkan salam diantara kalian. Imam
Nawawi, saling mengucapkan salam adalah sebab pertama menjalin hubungan baik
dengan sesama muslim, untuk mendekatkan diri pada Alloh SWT.
Anas bin Malik, Ketika Rosul bertemu
dengan anak kecil, Rosul juga mengucapkan salam. Imam Qurtubi menafsirkan ini
cara mendidik anak (akhlak) agar menebarkan salam. Kesimpulan: salam adalah
hal luar biasa, jangan disamakan dengan sapaan yang lain, seperti selamat siang, selamat malam dan lain sebagainya. Makna salam sangat
dalam. Seakan akan itu perjanjian. Perang bisa berhenti karena ucapan salam. Sampaikan
salam di kelas dengan sungguh, karena ini perjanjian. Ini khas milik umat
islam. Orang kafir sangat iri dengan salam umat islam.
Ada riwayat dari Abu Bakar; manfaat
salam adalah tercapainya hubungan saling mencintai antar sesama. Alloh
menjanjikan, jika kita mengucapkan salam dengan ikhlas, maka murid akan
menerima dengan lapang dada, sepenuh hati kehadiran guru.
2.
Bersikap zuhud di depan murid. Hubungan guru-murid,
istimewa. Bukan sekedar keduniawian. Saat berdakwah, nabi tidak minta upah,
semata-mata lillahi ta’ala. Ini penting, bagaimana guru menjaga wibawa di depan
murid. Jangan sampai guru minta di hormati muridnya, harus ikhlas. Sekali saja
terlihat murid, bahwa guru meminta yang bersifat duniawi, maka murid akan
menyimpulkan harga diri guru jatuh. Bukan berarti guru tidak boleh mengambil
gaji. Guru mendapat upah dari yayasan, bukan dari murid. Hindari sifat jual beli
(duniawi) saja. Guru ikhlas menyampaikan ilmu, tidak ada kepentingan lain. Guru
jangan sampai bertanya tentang hal yang bersifat duniawi, agar wibawa guru tidak
tercoreng.
3.
Sebelum memberi pembelajaran, guru harus YAKIN
bahwa dia menguasai betul materi yang akan diajarkan. Dosa yang paling besar seorang
guru, kalau guru mengajarkan hal yang salah sehingga murid nya melakukan hal yang
salah tersebut. Kalau murid tahu apa yang diajarkan guru itu salah, maka murid
tidak percaya lagi pada guru tersebut. Sekarang guru tidak satu, terlebih ada
google. Ada 2 hal, agar murid percaya guru, yaitu (1) guru benar-benar
menguasai konten, (2) guru jika bersalah, harus meminta maaf pada murid. Jujur
saja. Maka murid akan percaya dan hormat pada guru tersebut.
4.
Guru harus mengajarkan apa-apa yang bermanfaat
saja. Bukan semua yang guru ketahui. Karena itu yang dibutuhkan murid. Guru
seperti dokter. Dokter tidak memberi semua resep, tetapi satu rsesp saja
sesuai dengan sakitnya. Bukan berarti membatasi murid untuk mengetahui banyak
hal. Harus bertahap menyajikan materi. Seperti yang dicontohkan Rosul. Dimulai
syahadat dulu, sholat, zakat dst. Tidak semuanya sekaligus. Sesuatu yang
banyak masuk, banyak juga yang keluar. Mari meniru Rosul dalam mengajar.
5.
Guru wajib menjadi teladan yang baik bagi
muridnya, di dalam akhlak mulia dan karakter. Mengapa penting? Karena dalam
sejarah umat manusia, semua sepakat bahwa murid itu belajar sikap, akhlak lebih
dahulu sebelum belajar ilmu pada guru. Beberapa ulama mencontoh guru cara
berpakaian, cara melihat sesuatu, cara berbicara, dsb sebelum belajar ilmu-ilmu yang lain.
Contoh kisah 20 tahun yang lalu.
Guru mengajar melafalkan huruf dzal tidak fasih (salah).10 tahun kemudian,
bertemu. Muridnya ternyata melafalkan dzal dengan cara yang salah. Mengapa
begitu? Yaa seperti inilah cara guru saya mengajari. Padahal saat itu gurunya
tidak sadar saat melafalkan itu.
6.
Guru harus mempunyai spesialisasi kompetensi. Alloh
ketika mengutus para nabi, mereka juga ahli di bidangnya. Contoh. Nabi yahya,
‘ambil kitab ini dengan kekuatan’. Artinya keinginan kuat dalam memahami ilmu
tsb. Andai kompetensi guru itu mutkin, maka muridnya akan mengatakan saya sudah diajari ustad A,
karena ust A ini selalu update dalam ilmunya.
Rosul berkata, yang tahu halal dan
haram adalah muadz bin jabal. Artinya dia pakar di bidang fikih. Di waktu lain,
orang yang ahli di fariod adalah zaid bin zabit. Orang yang ahli di bidang
syair adalah hasan bin tsabit. Orang yang paling cepat dalam lari adalah
salmak. Yang paling ahli al qur’an adalah abdulloh bin mas’ud. Yang paling ahli
pada syir adalah khudaifah bin Yaman. Ini menunjukkan spesialisasi.
Dalam sirah, kholid bin walid memimpin perang.
Padahal bukan kaum muhajirin di awal. Karena pemimpin sebelumnya selalu
berguguran di medan perang. Rosul tahu kholid ahli perang. Ketika ditunjuk,
para sahabat tidak ada yang protes. Rosul pernah mengutus guru mengajar di
madinah. Mengapa bukan Umar atau Abu bakar? Tapi muadz. Karena rosul tahu bahwa
muadz bin umair kalau bicara itu bagus. Siapapun yang berhadapan dengan muadz
akan mengikuti, sehingga rosul mengutus muadz sebagai duta guru pertama di
madinah. Guru harus tahu level. Kalau tahu posisi levelnya, maka harus belajar
agar naik levelnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar