Rabu, 24 Juni 2020

Adab Guru pada Murid (1)



Sekarang kita fokus pada adab guru terhadap murid. Bagian ini lebih panjang dan lebih luas. Bagaimana guru berbicara pada murid, bagaimana metode mengajar dan sebagainya. Berikut ini adab-adabnya:

1.      Ketika memasuki kelas, ucapkan salam, mendoakan. Hadist: Maukah kalian saya tunjukkan sesuatu yang seandainya kalian melakukan maka kalian saling menyayangi. Tebarkan salam diantara kalian. Imam Nawawi, saling mengucapkan salam adalah sebab pertama menjalin hubungan baik dengan sesama muslim, untuk mendekatkan diri pada Alloh SWT.

Anas bin Malik, Ketika Rosul bertemu dengan anak kecil, Rosul juga mengucapkan salam. Imam Qurtubi menafsirkan ini cara mendidik anak (akhlak) agar menebarkan salam. Kesimpulan: salam adalah hal luar biasa, jangan disamakan dengan sapaan yang lain, seperti selamat siang, selamat malam dan lain sebagainya. Makna salam sangat dalam. Seakan akan itu perjanjian. Perang bisa berhenti karena ucapan salam. Sampaikan salam di kelas dengan sungguh, karena ini perjanjian. Ini khas milik umat islam. Orang kafir sangat iri dengan salam umat islam.

Ada riwayat dari Abu Bakar; manfaat salam adalah tercapainya hubungan saling mencintai antar sesama. Alloh menjanjikan, jika kita mengucapkan salam dengan ikhlas, maka murid akan menerima dengan lapang dada, sepenuh hati kehadiran guru.

2.       Bersikap zuhud di depan murid. Hubungan guru-murid, istimewa. Bukan sekedar keduniawian. Saat berdakwah, nabi tidak minta upah, semata-mata lillahi ta’ala. Ini penting, bagaimana guru menjaga wibawa di depan murid. Jangan sampai guru minta di hormati muridnya, harus ikhlas. Sekali saja terlihat murid, bahwa guru meminta yang bersifat duniawi, maka murid akan menyimpulkan harga diri guru jatuh. Bukan berarti guru tidak boleh mengambil gaji. Guru mendapat upah dari yayasan, bukan dari murid. Hindari sifat jual beli (duniawi) saja. Guru ikhlas menyampaikan ilmu, tidak ada kepentingan lain. Guru jangan sampai bertanya tentang hal yang bersifat duniawi, agar wibawa guru tidak tercoreng.

3.       Sebelum memberi pembelajaran, guru harus YAKIN bahwa dia menguasai betul materi yang akan diajarkan. Dosa yang paling besar seorang guru, kalau guru mengajarkan hal yang salah sehingga murid nya melakukan hal yang salah tersebut. Kalau murid tahu apa yang diajarkan guru itu salah, maka murid tidak percaya lagi pada guru tersebut. Sekarang guru tidak satu, terlebih ada google. Ada 2 hal, agar murid percaya guru, yaitu (1) guru benar-benar menguasai konten, (2) guru jika bersalah, harus meminta maaf pada murid. Jujur saja. Maka murid akan percaya dan hormat pada guru tersebut.

4.       Guru harus mengajarkan apa-apa yang bermanfaat saja. Bukan semua yang guru ketahui. Karena itu yang dibutuhkan murid. Guru seperti dokter. Dokter tidak memberi semua resep, tetapi satu rsesp saja sesuai dengan sakitnya. Bukan berarti membatasi murid untuk mengetahui banyak hal. Harus bertahap menyajikan materi. Seperti yang dicontohkan Rosul. Dimulai syahadat dulu, sholat, zakat dst. Tidak semuanya sekaligus. Sesuatu yang banyak masuk, banyak juga yang keluar. Mari meniru Rosul dalam mengajar.

5.       Guru wajib menjadi teladan yang baik bagi muridnya, di dalam akhlak mulia dan karakter. Mengapa penting? Karena dalam sejarah umat manusia, semua sepakat bahwa murid itu belajar sikap, akhlak lebih dahulu sebelum belajar ilmu pada guru. Beberapa ulama mencontoh guru cara berpakaian, cara melihat sesuatu, cara berbicara, dsb  sebelum belajar ilmu-ilmu yang lain.

Contoh kisah 20 tahun yang lalu. Guru mengajar melafalkan huruf dzal tidak fasih (salah).10 tahun kemudian, bertemu. Muridnya ternyata melafalkan dzal dengan cara yang salah. Mengapa begitu? Yaa seperti inilah cara guru saya mengajari. Padahal saat itu gurunya tidak sadar saat melafalkan itu.

6.       Guru harus mempunyai spesialisasi kompetensi. Alloh ketika mengutus para nabi, mereka juga ahli di bidangnya. Contoh. Nabi yahya, ‘ambil kitab ini dengan kekuatan’. Artinya keinginan kuat dalam memahami ilmu tsb. Andai kompetensi guru itu mutkin, maka muridnya akan mengatakan saya sudah diajari ustad A, karena ust A ini selalu update dalam ilmunya.

Rosul berkata, yang tahu halal dan haram adalah muadz bin jabal. Artinya dia pakar di bidang fikih. Di waktu lain, orang yang ahli di fariod adalah zaid bin zabit. Orang yang ahli di bidang syair adalah hasan bin tsabit. Orang yang paling cepat dalam lari adalah salmak. Yang paling ahli al qur’an adalah abdulloh bin mas’ud. Yang paling ahli pada syir adalah khudaifah bin Yaman. Ini menunjukkan spesialisasi.

Dalam sirah, kholid bin walid memimpin perang. Padahal bukan kaum muhajirin di awal. Karena pemimpin sebelumnya selalu berguguran di medan perang. Rosul tahu kholid ahli perang. Ketika ditunjuk, para sahabat tidak ada yang protes. Rosul pernah mengutus guru mengajar di madinah. Mengapa bukan Umar atau Abu bakar? Tapi muadz. Karena rosul tahu bahwa muadz bin umair kalau bicara itu bagus. Siapapun yang berhadapan dengan muadz akan mengikuti, sehingga rosul mengutus muadz sebagai duta guru pertama di madinah. Guru harus tahu level. Kalau tahu posisi levelnya, maka harus belajar agar naik levelnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar