Saat tulisan ini dibuat, sedang
ramai diperbincangkan pemberhentikan Kurikulum 2013 (K13). Walau lebih dari 6410
sekolah masih boleh melanjutkan, nampaknya arah pemberhentian total K13 semakin
kentara. Sepertinya K13 yang dirancang, disosialisasikan, dan dilatihkan dengan
dana besar hanya berumur jagung. Kita akan melihat pro dan kotra hingga
beberapa saat ke depan. Penulis tidak dalam posisi pro maupun kontra. Yang
menjadi pertanyaan mendasar adalah mengapa kurikulum sering berganti, namun
prestasi belajar peserta didik tidak beranjak baik.
Finlandia hanya menerapkan 4-5
jam sekolah, tetapi output nya luar biasa. Muridnya pintar-pintar. Bandingkan
dengan sekolah di negeri ini. Dari Senin hingga Sabtu, dari pagi hingga lepas tengah
hari, bahkan adanya mendekati senja. Dengan muatan pelajaran yang lebih banyak
tidak menjamin anak negeri ini lebih kreatif dan lebih cerdas menyelesaikan masalah.
Jangankan masalah keluarganya, masyarakatnya, atau negaranya, masalahnya
sendiri saja sulit terpecahkan. Malah kadang mereka menjadi bagian dari masalah
itu sendiri. Sering kan kita jumpai anak sekolah yang terlambat, keluyuran pada
jam kosong, malas mengerjakan PR, hingga tawuran antar sekolah.
